Berita-berita - "Sekolah Saja Rubuh, Apalagi Bicara Mutu"
28 May 2011
Jakarta - Ini salah satu ironi pendidikan Indonesia: atap gedung SDN 02 Kwitang, Senen, Jakarta Pusat rubuh dan melikai tiga siswa dan penjaga kantin. Yang tak habis pikir, itu terjadi di ibu kota Indonesia. Bayangkan di daerah, lebih-lebih memprihatinkan.
Keprihatinan juga dirasakan anggota komisi XI DPR, Meutya Hafid. "Padahal pendidikan harusnya jadi pilar utama yang membangun bangsa," ujar Meutya saat ditemui di acara Sampoerna Foundation bertema 'Indonesia Berkibar Bersama Kita Belajar' di gedung Sampoerna Strategic, Jakarta, Sabtu, 28 Mei 2011.
Politisi Senayan dari Partai Golkar ini membenarkan kondisi fisik gedung sekolah yang buruk bukan hanya terdapat di daerah-daerah. Tapi juga di jantung Jakarta. Itu baru soal fisik, apalagi jika bicara soal mutu pendidikan.
"Memprihatinkan sih apa yang kita lihat sekarang di sekolah-sekolah, tidak hanya di daerah, tapi di Jakarta juga. Itu baru fisik, belum kalau kita bicara mutu, kalau fisik saja sudah memprihatinkan, kita prihatin juga mutunya kurang," ungkapnya.
Meutya berharap ke depannya pendidikan Indonesia bisa lebih baik dari sekarang melalui perhatian dan peran pemerintah maupun swasta.
"Peran-peran seperti dari swasta, yayasan-yayasan, tidak hanya dari Sampoerna Foundation, tapi lebih banyak lagi yayasan, itu akan sangat diperlukan untuk memajukan kualitas pendidikan bangsa," tuturnya. (adi)
Oleh Dadang Kusnandar
Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan Cirebon
TERLALU sering orang bicara meluruskan sejarah. Mengingat pentingnya sejarah yang tidak membohongi publik, tidak...
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Endi M Bayuni, yang juga anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menilai, pembubaran diskusi dan bedah buku feminis Muslim asal Kanada, Irshad Manji, yang berjudul "God, Liberty and Love" di Komunitas Salihara, Jakarta, Jumat (4/5/2012) adalah promosi buku yang bagus dan gratis.
Sejarawan Universitas British Columbia, Kanada, Earl Drake, yang pernah menjabat Duta Besar Kanada di Indonesia menggugah pemerhati sejarah nasional dengan menyodorkan kembali sejumlah tanda tanya yang luput dipahami orang.