JAKARTA - Kepala Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Djoko Santoso mengakui adanya pelaku penjiplakan atau plagiator di jenjang profesor. Menurutnya, praktik plagiat di kalangan profesor itu adalah suatu hal yang wajar terjadi.
"Kita ini hidup di dunia dengan dua kutub, utara dan selatan. Ada yang baik dan bersih mengembangkan ilmu secara jujur. Ada juga yang ngawur-ngawur, itu biasa. Yang penting bagi kita ialah mengembalikan bagaimana supaya yang negatif ini ditekan dan diminimalis sekecil mungkin," kata Djoko kepadaKompas.com, Jumat (17/6/2011), di Jakarta.
Saat ditanya berapa jumlah profesor yang diduga melakukan praktik plagiat dan langkah apa yang ditempuh untuk menekannya, ia mangaku tak mampu menjamin menghilangkan praktik plagiat tersebut. Meski demikian, Djoko mengungkapkan, dirinya telah berusaha keras dengan berbagai cara untuk menekan adanya praktik plagiat di kalangan profesor.
"Jika untuk dihilangkan, apakah anda bisa menghilangkan neraka? Saya kira plagiat di tingkat profesor itu biasa, makanya saya minta para rektor mendeklarasikan antiplagiat dan antimenyontek. Tujuannya adalah untuk menekan itu," ujarnya.
Mengenai jumlahnya, menurut dia, susah diprediksi. "Berapa jumlah profesor yang plagiat itu tidak terlalu penting, yang penting adalah menekan sekecil mungkin hal-hal yang negatif. Saya tak mau jawab angka persisnya, karena jumlah profesor yang diduga plagiat bisa berubah-ubah. Lebih baik kita tidak mengatakan angka," tegasnya.
Sumber: KOMPAS.com
|