Pilih Produsen
Customer Support
Condongcatur, Depok, Sleman,
DI. Yogyakarta 55283
WA: 08812608035
 
Layanan 1
Layanan 1
 
Layanan 2
Layanan 2

 

Media Sosial

 

Tracking JNE

 

Berita-berita - Karya Ilmiah di Jurnal Tak Bisa Dihindari
  19 Feb 2012

 

JEMBER, KOMPAS.com -- Karya ilmiah mahasiswa yang diterbitkan di jurnal ikut menentukan kualitas calon sarjana. Karena itu, calon sarjana tidak bisa menghindar lagi untuk membuat karya tulis ilmiah yang harus dimuat di jurnal.

"Mahasiswa calon sarjana pasti bisa membuat karya ilmiah untuk dimuat di jurnal, kecuali kalau skripsinya dibuatkan orang lain," kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Joko Santoso kepada wartawan di Politeknik Negeri Jember, Jawa Timur, Sabtu (18/2/2012).

Bagi mahasiswa calon sarjana yang melakukan penelitian sendiri dan menulis skripsi sendiri, membuat karya ilmiah di jurnal tidak sulit. Karya ilmiah di jurnal hanya 5 hingga 10 halaman, jika dibanding skripsi yang tebalnya 150 hingga 200 halaman.

Joko Santoso menganjurkan supaya semua perguruan tinggi segera mendaftarkan jurnalnya. Jurnal bisa dibuat di tingkat universitas, fakultas, program studi, atau laboratorium.

"Cara membuat jurnal bisa di lihat di website Dikti. Di sana ada petunjuk cara membuat jurnal online," kata Joko Santoso.

Kampus Diminta buat Sistem Pencegahan Plagiarisme
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengimbau para rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk membangun sistem yang dapat digunakan untuk melacak kasus plagiarisme pada lingkup pendidikan tinggi. Hal itu guna mencegah adanya kasus plagiarisme oleh dosen ataupun mahasiswa.

"Antisipasinya saya minta kepada PTN dan PTS membuat sistem supaya bisa melacak plagiarisme," kata Nasir saat ditemui usai peninjauan langsung pelaksanaan Seleksi Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SMBPTN) di Universitas Indonesia, Depok, Selasa (9/6).
Yang Dicari Dunia dari Penulis Indonesia
Seperti yang pernah ditegaskan Ayu Utami, salah satu sastrawan Indonesia, buku kita tak perlu berlatar asing untuk bisa diterima publik dunia. Hal yang sama dikatakan oleh Roland Kelts, salah satu editor Monkey Business, jurnal sastra berkualitas dari Jepang.