Posted on

Al-Umm 3

Penulis     : Imam Syafi’i

Tebal         : 321 hlm

Ukuran     : 17 x 24 cm

Penerbit   : Republika

Deskripsi:

Jilid ketiga ini menguraikan masalah Zakat dan puasa.

“Asy-Syafi’i seperti matahari bagi dunia, seperti keselamatan bagi manusia, maka apakah ada pengganti bagi kedua kenikmatan ini? “—–Imam Ahmad bin Hanbal
Tidaklah berlebihan bila Imam Syafi’i menamai kitabnya Al-‘Um, yang berarti kitab Induk. Persoalan-persoalan fiqih keseharian mulai dari ibadah, munakahah, muamalah, dan siyasah, diuraikan detail dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, dalam kitab yang menjadi rujukan utama ahlu sunnah wal jama’ah yang bermazhab Syafi’iyah ini. Bukan hanya itu, ulama-ulama sesudahnya pun menempatkan kitab ini sebagai rujukan utama dalam mengembangkan fatwa-fatwa fikih kontemporer.

Betul bahwa kitab al-‘Um ini menjadi rujukan setiap muslim yang bermazhab Syafi’iyah. Akan tetapi, siapa pun, sesungguhnya, perlu mempelajari, mengkaji, dan memahami, fatwa-fatwa Imam Syafi’i yang ada dalam kitab ini. Sebagai pijakannya, kita laksanakan pesan Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa, “Jika sebuah hadis bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok.” Tentunya, lebih-lebih lagi bila bertentangan dengan Al-Qur’an. Bila semua mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak akan ada lagi perselisihan di antara umat Islam hanya karena perbedaan pemahaman. Insya Allah.

 

Posted on

Al-Umm 2

Penulis     : Imam Syafi’i

Tebal         : 427 hlm

Ukuran     : 17 x 24 cm

Penerbit   : Republika

Deskripsi:

“Asy-Syafi’i seperti matahari bagi dunia, seperti keselamatan bagi manusia, maka apakah ada pengganti bagi kedua kenikmatan ini? “—–Imam Ahmad bin Hanbal
Tidaklah berlebihan bila Imam Syafi’i menamai kitabnya Al-‘Um, yang berarti kitab Induk. Persoalan-persoalan fiqih keseharian mulai dari ibadah, munakahah, muamalah, dan siyasah, diuraikan detail dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, dalam kitab yang menjadi rujukan utama ahlu sunnah wal jama’ah yang bermazhab Syafi’iyah ini. Bukan hanya itu, ulama-ulama sesudahnya pun menempatkan kitab ini sebagai rujukan utama dalam mengembangkan fatwa-fatwa fikih kontemporer.

Betul bahwa kitab al-‘Um ini menjadi rujukan setiap muslim yang bermazhab Syafi’iyah. Akan tetapi, siapa pun, sesungguhnya, perlu mempelajari, mengkaji, dan memahami, fatwa-fatwa Imam Syafi’i yang ada dalam kitab ini. Sebagai pijakannya, kita laksanakan pesan Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa, “Jika sebuah hadis bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok.” Tentunya, lebih-lebih lagi bila bertentangan dengan Al-Qur’an. Bila semua mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak akan ada lagi perselisihan di antara umat Islam hanya karena perbedaan pemahaman. Insya Allah.

 

Posted on

Al-Umm 1

Penulis     : Imam Syafi’i

Tebal         : 379 hlm

Ukuran     : 17 x 24 cm

Penerbit   : Republika

Deskripsi:

“Asy-Syafi’i seperti matahari bagi dunia, seperti keselamatan bagi manusia, maka apakah ada pengganti bagi kedua kenikmatan ini? “—–Imam Ahmad bin Hanbal
Tidaklah berlebihan bila Imam Syafi’i menamai kitabnya Al-‘Um, yang berarti kitab Induk. Persoalan-persoalan fiqih keseharian mulai dari ibadah, munakahah, muamalah, dan siyasah, diuraikan detail dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, dalam kitab yang menjadi rujukan utama ahlu sunnah wal jama’ah yang bermazhab Syafi’iyah ini. Bukan hanya itu, ulama-ulama sesudahnya pun menempatkan kitab ini sebagai rujukan utama dalam mengembangkan fatwa-fatwa fikih kontemporer.

Betul bahwa kitab al-‘Um ini menjadi rujukan setiap muslim yang bermazhab Syafi’iyah. Akan tetapi, siapa pun, sesungguhnya, perlu mempelajari, mengkaji, dan memahami, fatwa-fatwa Imam Syafi’i yang ada dalam kitab ini. Sebagai pijakannya, kita laksanakan pesan Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa, “Jika sebuah hadis bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok.” Tentunya, lebih-lebih lagi bila bertentangan dengan Al-Qur’an. Bila semua mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak akan ada lagi perselisihan di antara umat Islam hanya karena perbedaan pemahaman. Insya Allah.

 

Posted on

40 Amalan Penting yang Terlupakan

Penulis     : Syekh Nawawi al-Bantani

Tebal         : 384 hlm

Ukuran     : 15 x 23 cm

Penerbit   : Turos Pustaka

Deskripsi:

Kitab 40 Amalan Penting yang Terlupakan ini merupakan karya Syekh Nawawi al-Bantani yang diterjemahkan dari kitab Tanqih al-Qaul al-Hatsits, sebuah syarah (penjelasan) atas hadits-hadits pilihan dalam kitab Lubab al-Hadits karya Imam Suyuthi (1445-1505M)

Kitab ini sangat popular di kalangan pesantren. Selain menjadi salah satu rujukan utama bagi para kiai, kitab ini juga menjadi bacaan wajid para santri untuk memperkaya pengetahuannya tentang keutamaan amal ibadah (fadhail al-a’mal) yang penting namun sering dilupakan.

Beberapa amalan penting dalam kitab ini, antara lain berkenaan tentang: Ibadah Sunnah, Ilmu dan Ulama, Basmalah, Shalawat atas Nabi saw., Hari Jumat, Berwudhu, Nikah, Bersabar, Doa, Istigfar, sedekah, Salam, Masjid, Taubat, Ber-tasbih, Siwak, Memanah, Salam, Berserban, Sedikit Tawa.

Buku ini diterjemahkan dari Tanqih al-Qaul al-Hatsits fi Syarhi Lubâb al-Hadits

ISI BUKU:
· Penjelasan atas hadits-hadits pilihan dari kitab Lubab al-Hadits karya Imam Suyuthi.
· Sebuah tuntunan tentang keutamaan-keutamaan amal untuk meningkatkan spiritualitas seorang muslim.

 

Posted on

Ikhtisar Ihya Ulumiddin

Penulis     : Imam Al-Ghazali

Tebal         : 864 hlm

Ukuran     : 15 x 23 cm

Penerbit   : Turos Pustaka

Deskripsi:

Kitab Ikhtishar `Ihya` ‘Ulumiddin merupakan ringkasan dari kitab legendaris berjudul `Ihya` ‘Ulumiddin karya Sang Hujjatul Islam Imam al-Ghazali (1058-1111 M). Dikenal luas sebagai kitab referensi spiritualitas umat Islam, kitab ini diringkas sendiri oleh al-Ghazali agar tetap terjaga intisarinya, terutama untuk Anda yang sibuk.
Melalui kitab monumental ini kita seperti diajak untuk membaca lebih dekat sosok Imam al-Ghazali di akhir-akhir hidupnya. Periode ketika al-Ghazali telah sempurna sebagai “manusia”, yakni ketika ia sampai pada pilihan untuk meninggalkan segala apa yang ia capai selama hidupnya dan memilih untuk kembali ke jalan sederhana, hidup apa adanya di tanah kelahirannya.
Karya yang ditulis hampir seribu tahun yang lalu ini membahas secara lengkap inti-inti ajaran Islam sekaligus memiliki banyak keistimewaan, khususnya dalam hal tuntunan penyucian diri (tazkiyat an-nafs) seorang hamba dan karakter kepenulisan yang menarik dan unik. Tak heran, jika kitab ini begitu populer di Indonesia, khususnya di kalangan santri yang menjadikan kitab al-Ghazali ini sebagai salah satu bacaan wajib setelah al-Quran.

Posted on

Hermeneutika Al-Quran

Penulis     : Ilyas Supena

Tebal         : 268 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi :

Alquran merupakan kitab suci yang eksistensinya diwakili oleh teks dan kehadirannya tidak bisa lepas dari setting sosial masyarakat Arab pada zaman Nabi. Pemahaman atas dimensi teks dan dimensi sosial ini selanjutnya menjadi syarat mutlak untuk menangkap pesan Alquran yang bersifat essensial-substansial-fundamental-universal dan membedakannya dari pesan Alquran yang bersifat lokal-regional-partikular karena pergumulannya dengan sejarah dan masyarakat.

Salah satu problem hermeneutis dalam ilmu-ilmu keislaman adalah bagaimana merumuskan hubungan dialogis antara universalitas dan partikularitas pesan Alquran atau antara normativitas dan historisitas Alquran.
Hermeneutika dalam Islam tidak dimaksudkan untuk menguji apalagi menggugat orisinalitas dan sakralitas kitab suci, tetapi lebih pada upaya kontekstualisasi universalitas Alquran dalam situasi lokal-partikular.

 

Posted on

Cahaya di Atas Cahaya

Penulis     : Imam Al-Ghazali

Tebal         : 154 hlm

Ukuran     : 11 x 16 cm

Penerbit   : Turos Pustaka

Deskripsi

  • Penjelasan lengkap tentang hakikat cahaya dan Cahaya Ilahi.
  • Penjelasan tentang perbedaan antara cahaya hakiki (Cahaya Ilahi) dan cahaya majasi (cahaya yang kita pahami selama ini).
  • Ajakan Ghazali untuk mengenal lebih dalam hakikat cahaya ketuhanan dalam perspektif tasawuf.
  • Penujelasan tentang arti Misykat, Mishbah, Zujajah, Syajara, Zait dan
  • Perbedaan derajat manusia dalam memperoleh cahaya dari Allah.
  • Pembagian manusia saat menerima cahaya dari Allah.
  • Merupakan buku yang diterjemahkan dari serial Rasail-nya Imam al-Ghazali
  • Diterjemahkan oleh penerjemah profesional serta disajikan dengan modern
  • Juga dilengkapi dengan quotes di tiap-tiap judul, bertujuan menegaskan/memperjelas poin-poin penting yang terkandung dalam buku
  • Pemilihan fontdan layout buku yang unik dan moderen tanpa menghilangkan kesan klasik buku dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi sehingga bisa dibaca oleh berbagai kalangan dengan tingkatan umur yang berbeda