Posted on

Kritik Sastra

Penulis     : Esti Ismawati

Tebal         : 316 hlm 

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi :
Kritik sastra adalah salah satu cabang studi sastra yang langsung berhubungan dengan karya sastra melalui penafsiran, penguraian, dan penilaian; cabang dari studi sastra yang langsung berhubungan dengan sastra melalui interpretasi, analisis, dan evaluasi (Wiyatmi, 2012). Interpretasi adalah upaya memahami karya sastra dengan memberikan tafsiran untuk memperjelas arti bahasa dengan analisis yang dipusatkan pada ambiguitas, kiasan-kiasan, atau makna yang masih gelap. Interpretasi bisa juga berupa penafsiran makna karya sastra berdasarkan unsur-unsurnya serta aspek yang lain seperti jenis sastranya, aliran sastranya, latar belakang sosial historisnya, sebagaimana diungkapkan oleh Abrams (1981), Pradopo (1982) dan Wiyatmi (2012).
Analisis adalah penguraian karya sastra atas bagian-bagian atau norma-normanya. Analisis bisa dilakukan dengan mengedepankan unsur intrinsik dan ekstrinsik dari sebuah karya sastra, seperti puisi, yang bisa dilakukan melalui analisis bentuk dan isi. Bentuk atau struktur fisik puisi meliputi diksi, pengimajian, kata-kata konkret, figuratif language (majas), verifikasi, tipografi, ritme dan rima, dan seterusnya. Sedangkan isi puisi atau struktur batin puisi meliputi sense, feeling, tone, intention (tema, nada, perasaan)

Posted on

Menafsir Kembali Amir Hamzah

Penulis     : Damiri Mahmud

Tebal         : 145 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi:

Ketika kritikus sastra seperti H.B. Jassin, A.H. Johns, A. Teeuw, Abdul Hadi WM, dan Sutan Takdir Alisjahbana melihat karya-karya Amir Hamzah sebagai karya mistik atau sufi yang bersifat utopia belaka, buku ini memurnikan kembali posisi si penyair sebagai cucu Adam yang memiliki rasa cinta, kerinduan, dan penyesalan.

Ikhtisar kajian ini sudah diketengahkan di berbagai perguruan tinggi dan seminar dalam beberapa forum yang telah mendapat sambutan luas dari para budayawan, sastrawan, sarjana, dosen, dan mahasiswa. Buku ini perlu dibaca dan dikaji oleh para budayawan, ulama, sarjana, dosen, guru, mahasiswa, pelajar, serta peminat sastra sastra dan tasawuf, sebagai bahan banding dan referensi terhadap Amir Hamzah.

 

Posted on

La Galigo menurut Naskah NBG 188 Jilid 3

Penulis     : Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa (editor)

Tebal         : xvi + 616 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi:

Kisah ini diawali ketika Wé Datu Sengngeng hamil dan melahirkan kembar emas, yaitu Wé Tenriabéng dan Sawérigading. Sawérigading inilah tokoh utama dalam La Galigo yang kelak kisahnya dipenuhi dengan petualangan laut.

Seperti diketahui, hampir semua episode La Galigo mengusung tema utamapelayaran dan perantauan. Tema ini mengandung budaya maritim, yang mengajarkan kepada manusia tentang banyak hal, antara lain, sikap egalitarian, keterbukaan, musyawarah, menghargai perbedaan, dan independen.

Hamba sahaya yang hina-dina seperti yang ditemukan dalam kisah-kisah kuno lainnya hampir-hampir tak ditemukan dalam naskah La Galigo, bahkan mereka diberi gelar khusus yang mempunyai kedudukan yang tinggi dalam kebudayaan Bugis yakni  Bissu Pattudang.

Hubungan dengan berbagai negeri dan negara dibangun atas dasar saling pengertian dan saling menghargai, baik di Nusantara maupun di dunia.

Hubungan antara laki-laki dan perempuan berlangsung setara, independen,simbiosis, dan negosiasi tanpa ada dominasi antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini terlihat ketika Sawérigading bertemu, bercinta, dan bertunangan dengan Senrima Wéro di Istana Tanra Tellu di Boting Langiq (kerajaan langit). Keduanya saling jatuh cinta namun tetap berpijak pada keyakinan dan prinsip yang mereka anut tanpa saling memaksakan kehendak antara keduanya. Senrima Wéro mencintaiSawérigading, tapi dengan syarat harus tetap tinggal di kerajaan langit, sementaraSawérigading bertahan untuk menikahi Senrima Wéro dan membawanya turun kedunia tengah (Alé Lino). Meski keduanya saling mencintai, tapi keduanya tidak bisa menyatu karena perbedaan prinsip tersebut, akhirnya mereka sepakat untuk berpisah.

Sistem perkawinan dalam La Galigo adalah negosiasi, bila laki-laki lebih tinggi derajat kebangsawanannya dibanding perempuan, maka perempuanlah yang mengadakan pesta dan mengawini laki-laki, sebaliknya, bila perempuan lebih tinggi derajatnya dari laki-laki, maka laki-lakilah yang mengadakan pesta dan menikahi perempuan.

Hubungan yang seimbang itu tetap berlangsung, sampai sesudah menikah.

Keseimbangan, antara dunia langit (Boting Langiq) dan dunia bawah laut(Pérétiwi), diantarai oleh dunia tengah yakni bumi manusia (Alé Lino), yang berfungsi sebagai penjaga keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah laut. Dan pengarang La Galigo begitu apik dan sempurna mengadopsi kehamonisan alam ini secara makro ke dalam hubungan manusia secara mikro, termasuk dalam hubungan intim antara laki-laki dan perempuan dengan balutan bahasa halus dan simbolik tanpa kesan eksploitasi bahasa seksualitas dan porno. Kisah purba dalamLa Galigo lahir  melampaui zamannya, di dalamnya menggambarkan tentang jiwa-jiwa petualang, bebas, dan merdeka dari negeri para pemberani. Cinta, romantisme, dan erotisme diramu dengan sempurna melebihi kisah-kisah seperti Kama Suteradan Lontaraq Assikalibiningeng.

 

Posted on

La Galigo menurut Naskah NBG 188 Jilid 2

Penulis     : Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa (editor)

Tebal         : xx + 544 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi:

Ketika Batara Lattuq telah menjadi dewasa, tiba saatnya untuk mencari permaisuri. Sayangnya tak satu pun orang di negeri Luwuq yang memiliki darah yang sederajat dengannya. Alangkah gusar hati Batara Guru bersama Wé Nyiliq Timoq memikirkan tentang putranya. Akhirnya Wé Nyiliq Timoq turun ke Pérétiwi untuk meminta pertimbangan orang tuanya di kerajaan bawah laut. Sayangnya apa yang diharapkannya tidak diperoleh, sehingga Batara Guru memutuskan naik ke Boting Langiq untuk meminta Patotoqé mewujudkan keinginan Batara Lattuq. Patotoqé pun menyarankan  agar Batara Lattuq berlayar ke Tompoq Tikkaq untuk menemukan jodoh yang sederajat.

Kisah ini diawali dengan keberangkatan Batara Lattuq melalui pelayaran dan petualangan yang penuh tantangan. Ketika tiba di Tompoq Tikkaq, didapatinya dua anak yatim piatu, Wé Adi Luwuq dan Wé Datu Sengngeng bersama inang pengasuhnya, hidup dalam penderitaan di istana yang telah dirampas seluruh isinya. Batara Lattuq mengajukan lamaran ke Wé Datu Sengngeng sesuai pesan  Patotoqé, tapi pinangan itu ditolak inang pengasuh karena merasa anak asuhnya tidaklah pantas diperistri oleh sang raja akibat kemiskinan dan penderitaannya. Batara Lattuq, tidak peduli dengan keadaan sang putri, ia memperbaiki istana Wé Datu Sengngeng yang telah rusak dan kosong.

Sementara bibi jahat dihukum dan seluruh harta yang telah dirampasnya dikembalikan kepada kedua anak yatim piatu itu. Pesta perkawinannya pun berlangsung berhari-hari, dan tak henti-hentinya harta benda diusung naik ke istana dari perahu-perahu Batara Lattuq yang jumlahnya tak terhitung. Sesudah pesta Batara Lattuq berlangsung, saudara Wé Datu Sengngeng,  Wé Adiluwuq menikah pula dengan I La Jiriu, sepupu Batara Lattuq yang turun bersamanya dari Boting Langiq.

Tak berapa lama sesudah pesta berlangsung, sang putri pun diboyong kembali ke Tanah Luwuq tempat orang tuanya bertahta dan berkuasa.

Sepuluh bulan setelah pasangan ini bermukim di Luwuq, pada suatu malam Wé Datu Sengngeng bermimpi mengarungi laut dan menyaksikan sebuah keranjang emas yang tergantung pada bianglala, berisi sebuah telur, langsung turun di hadapannya. Wé Datu Sengngeng lalu duduk di atas keranjang tersebut, telur tersebut pecah, keluarlah dua ekor anak ayam, jantan dan betina. Yang betina naik ke Dunia Atas di istana Boting Langiq, sedang yang jantan terbang ke berbagai negeri jauh. Keesokan paginya ketika terbangun, Wé Datu Sengngeng kaget dan  bingung,  dan menurut mertuanya, Wé Nyiliq Timoq, mimpi tersebut merupakan isyarat bahwa ia akan melahirkan dinru laweng, anak kembar emas, yaitu seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Putranya akan mengunjungi negeri-negeri jauh, sedangkan putrinya akan naik ke Boting Langiq.

Sementara Wé Adiluwuq (saudara Wé Datu Sengngeng) dan I La Jiriu juga  dikaruniai anak kembar emas, yaitu Pallawa Gauq dan Wé Tenrirawé.

 

Posted on

La Galigo menurut Naskah NBG 188 Jilid 1

Penulis     : Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa (editor)

Tebal         : xii + 526 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi:

Sekali waktu, ketika dunia ini masih kosong belum berpenghuni, Patotoqé di istana Boting Langiq (kerajaan langit) bangkit dari tidurnya dan menyaksikan sang penjaga ayam kesayangannya, Rukkelleng Mpoba bersaudara, tidak nampak. Alangkah murkanya Patotoqé, dan memerintahkan pengawal untuk mencarinya. Ketika Rukkelleng Mpoba bersaudara datang, mereka langsung sembah sujud di hadapan Patotoqé  dan berkata:  “Kami baru saja pulang dari bumi memperlagakan kilat dan guntur, Tuanku, dan menyaksikan tidak ada satu pun manusia di dalamnya, tidak ada arti kekuasaan dan ketuhananmu tanpa ada manusia yang menyembahmu”.

Sejenak Patotoqé terpekur dan berkata dalam hati: “Betul juga apa kata Rukkelleng Mpoba itu”. Maka ia pun memerintahkan mengadakan musyawarah agung di Boting Langiq, untuk memutuskan siapakah putranya yang akan diturunkan di dunia untuk menghuni dunia yang kosong, agar ada manusia yang menyembahnya. Dalam pertemuan tersebut diputuskan untuk mengirim putra Patotoqé bernama La Togeq Langiq, yang setelah di dunia bernama Batara Guru. Patotoqé menurunkan pula seluruh warisan Batara Guru di langit termasuk istana, selir-selir, pasukan, pengawal, dayang-dayang,  pendeta-pendeta bissu,sanro (dukun), dan para pelayan yang kelak akan menghibur, menemani, dan melayani  Batara Guru agar ia betah dan bertahan hidup di bumi.

Batara Guru dijodohkan dengan putri Dewi Sinauq Tojang dari Buriq Liu/Pérétiwi (kerajaan bawah laut), bernama Wé Nyiliq Timoq. Pertemuan, percintaan, dan perkawinan Batara Guru dengan sang putri dari istana bawah laut ini, penuh dengan kisah-kisah unik, mistis, magis, dan romantik yang secara purba menggambarkan hubungan manusia secara natural dan universal. Perkawinan dewa dari Boting Langiq dan dewi dari Buriq Liu inilah yang menghuni dunia tengah (Alé Kawaq/Alé Lino) dan diyakini sebagai manusia pertama yang mengisi bumi dan kemudian berkembang-biak, beranak-pinak, dan  meramaikan dunia yang sekarang lebih dikenal sebagai tanah Bugis dan  manusia Bugis. Karena itulah  jilid I cerita La Galigo seperti yang ada di tangan pembaca sekarang ini disebut episode Mula Tau (awal mula penciptaan manusia).

Putri pertama dewa-dewi ini bernama Wé Oddang Riuq, yang meninggal ketika berusia tujuh hari, dan dari kuburnya muncul padi menguning, itulah yang dikenal Sangiang Serri, yang kelak akan memberikehidupan manusia. Anak kedua pasangan Batara Guru dengan We Nyiliq Timoq adalah Batara Lattuq.

Di Tompoq Tikkaq hiduplah sepasang dewa-dewí́ yang bernama La Urung Mpessi dan permaisurinya Wé Pada Uleng. Keduanya mempunyai dua anak perempuan, yaitu Wé Adiluwuq dan Wé Datu Sengngeng. Sekali waktu, pasangan dewa ini sedang mempersiapkan upacara  kedatuan di Tompoq Tikkaq, tapi tak ada satu pun tamunya yang datang dari negeri seberang. La Urung Mpessi murka, danmembuang semua hidangan yang telah dipersiapkannya ke dalam sungai. Tindakan ini membuat Patotoqé marah, dan menghukumnya dengan cara mengambil nyawa suami istri tersebut, yang meninggal pada waktu bersamaan. Serta merta kedua putrinya menjadi anak yatim piatu. Penderitaan kedua anak ini bertambah, ketika seluruh harta dan warisan kedua orang tuanya diambil oleh bibinya, yang menyebabkan kedua putri ini pergi membuang diri. Setelah mengembara di hutan, atas desakan seorang utusan dari Pérétiwi, meréka pun pulang ke inang pengasuhnya di Istana Tompoq Tikkaq.

 

Posted on

Dari Doing ke Undoing Gender: Teori dan Praktik dalam Kajian Feminisme

Penulis     : Wening Udasmoro

Tebal         : 358 hlm

Ukuran     : 15,5 x 23 cm

Penerbit   : UGM Press

Deskripsi :

Penelitian dalam dunia akademik dengan menggunakan perspektif feminisme telah mengalami perjalanan yang panjang, terutama di berbagai program studi di universitas-universitas di Indonesia. Meskipun gerakan feminisme di Indonesia mulai berkembang pesat sejak pertengahan tahun 1980-an dengan lahirnya organisasi-organisasi perempuan yang memperjuangkan kesamaan kesempatan antara laki-laki dan perempuan, dalam konteks akademik tulisan-tulisan juga muncul pada masa itu seiring dengan hadirnya para feminis yang juga merupakan akademisi.

Buku ini mencoba menjelaskan dari sisi teoretis dan dalam praktik penelitian terkait dengan studi gender dan feminisme. Sebagian besar merupakan tulisan-tulisan yang didasarkan pada penelitian sastra mahasiswi dan mahasiswa Master Universitas Gadjah Mada. Akan tetapi, beberapa tulisan lain terkait dengan kajian budaya dan media serta seni pertunjukan mewarnai penjelasan penelitian feminisme tersebut. Buku ini menghadirkan tulisan peneliti-peneliti muda berbakat yang memiliki aspek-aspek kritis dalam tulisan mereka.

Buku ini dibagi dalam empat bagian. Pertama ialah tulisan-tulisan yang terangkum dalam judul besar “Tubuh dan Pendisiplinan Perempuan”. Judul besar kedua ialah “Perempuan dalam Konstruksi Budaya dan Negara”. Judul besar ketiga ialah “Kontestasi-Kontestasi Maskulin”. Judul besar keempat ialah “Peredefinisian Dikotomi Gender”.

 

Posted on

Teori Kritik dan Penerapannya dalam Sastra Indonesia Modern

Penulis     : Rachmat Djoko Pradopo

Cetakan    : 2017

Tebal         : 462 hlm

Ukuran     : 15,5 x 23 cm

Penerbit   : UGM Press

Deskripsi :

Kritik sastra merupakan salah satu cabang studi sastra yang penting dalam kaitannya dengan ilmu sastra dan penciptaan sastra. Dalam bidang keilmuan sastra, kritik sastra tidak terpisahkan dengan cabang studi yang lain, yaitu teori sastra dan sejarah sastra (Wellek dan Warren, 1968: 39). Dalam bidang penciptaan sastra, kritik sastra yang merupakan cabang studi sastra yang berhubungan langsung dengan karya sastra yang konkret itu (Wellek, 1978: 35) mempunyai peranan penting dalam pengembangan sastra (Pradopo, 1967: 13).

Berdasarkan hal itu, sangatlah penting meneliti kritik sastra Indonesia modern sejak timbulnya hingga sekarang. Meskipun usia kritik sastra Indonesia modern belum lama dibandingkan dengan kritik sastra dunia, Eropa dan Amerika, misalnya (lihat Wellek, 1965), selama umurnya yang baru sekitar 60-an tahun, sudah sangat banyak persoalan sastra yang tersangkut di dalamnya. Karena itu, perlulah diteliti dan diuraikan bagaimana wujud dan corak kritik sastra Indonesia modern sejak timbulnya hingga sekarang; diteliti secara teliti dan saksama demi perkembangan ilmu sastra Indonesia modern khususnya dan ilmu sastra Indonesia pada umumnya. Penelitian kritik sastra Indonesia modern ini perlu dilakukan mengingat tulisan-tulisan atau referensi yang dapat digolongkan dalam penelitian kritik sastra Indonesia modern belumlah memadai.

 

Posted on

Analisis Sastra: Teori dan Aplikasi

Penulis     : I Nyoman Suaka
Cetakan    :
Tebal         :
282 hlm
Ukuran     : 14,5 x 21 cm
Penerbit   : Ombak
Deskripsi:

Karya sastra yang lahir dari renungan dan pemikiran manusia senantiasa menjadi refleksi manusia itu sendiri, karena secara gamblang kita dapat berkata bahwa karya sastra adalah salah satu pengejawantahan dari kebudayaan ide manusia, singkat kata karya sastra adalah manusia itu sendiri. Berbagai macam serpihan kehidupan, mulai dari dunia real, ideal, fantasi, hingga surreal tentang kondisi sejarah, sosial, hingga pergolakan politik menemukan titik leburnya dalam sastra. Semua serpihan dapat terangkai dengan rapi dalam sebuah karya sastra, baik yang dituliskan dengan banal ataupun terselubung.

Tak pelak lagi, faktor-faktor kemanusiaanlah yang membuat karya sastra senantiasa menarik untuk ditelusuri dan dianalisis lebih dalam. Sifat multidimensional manusia memungkinkan kita untuk menggunakan berbagai perspektif dan pendekatan dalam membaca karya sastra. Buku Analisis Sastra: Teori dan Aplikasi ini akan mengantarkan Anda dalam membongkar makna sebuah karya sastra. Dalam buku ini dimuat berbagai macam penjelasan tentang hubungan sastra dengan berbagai ilmu, pendekatan dan model analisis sastra, serta hubungan sastra dengan seluk beluk kehidupan manusia.