Posted on

Di Belanda tak Seorang pun Mempercayai Saya

Penulis     : Maarten Hidskes

Tebal         : xxx + 298 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi :

Pada bulan Juli 1946 Piet Hidskes mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pada Depot Speciale Troopen (DST, Depot Pasukan Khusus), korps elite dari Koninklijke Nederlansch-Indisch Leger (Pasukan Hindia-Belanda) di bawah komando Kapten Westerlingyang menerima carte blanche untuk menumpas pemberontakan di Indonesia dan melakukan aksi-aksi pembersihan. Setelah mengikti pelatihan selama enam bulan, Hidskes ditempatkan di Sulawesi Selatan. Dia kemudian terlibat dalam ‘Peristiwa Sulawesi Selatan’. Hidskes tidak menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi di sana. Siapa yang akan mempercayainya?

Ketika dia meninggal dunia pada tahun 1992, cerita itu dia bawa masuk ke liang lahat. Kenapa dia selama lima puluh tahun membungkam diri tentang semua pengalamannya di Sulawesi Selatan? Sejauhmana keterlibatannya dalam pelaksanaan aksi-aksi pasukan Westerling dilakukannya dengan sukarela?

Anaknya, Maarten Hidskes, memutuskan untuk menyelidiki peran ayahnya di Sulawesi sampai mendasar. Dia mendapatkan kepercayaan dari beberapa mantan tentara komando dari regu pasukan ayahnya, menganalisis surat-surat yang dikirim ayahnya dari Hindia, dan mempelajari laporan-laporan intelijen tentang teror di Sulawesi. Dengan cara yang mengharukan, Maarten berhasil menyusun rekonstruksi masa lalu perang dari ayahnya.

 

Posted on

Berlayar di Tengah Badai: Misbach Tamrin dalam Gemuruh Seni-Politik

Penulis     : Hairus Salim HS dan Hajriansyah

Cetakan    :

Tebal         : xviii + 170 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Gading Publishing

Deskripsi:

Peristiwa G30S tahun 1965 merupakan kelokan penting dalam perjalanan bangsa ini. Partai Komunis Indonesia (PKI), salah satu dari empat partai terbesar era tersebut, dilarang menyusul pecahnya peristiwa tersebut. Lalu ribuan, bahkan jutaan, anggota, simpatisan, dan mereka yang dipandang terkait dengan PKI, diburu, dibunuh, ditangkapi, ditahan, dan yang tersisa kemudian hidup sebagai eks-tapol, warga negara kelas dua, selama pemerintahan Orde Baru.

Telah banyak kajian dibuat, baik oleh peneliti dalam negeri maupun luar negeri, mengenai apa sebenarnya yang terjadi pada tahun tersebut. Puluhan memoar, biografi, otobiografi, dan sejenisnya dari para korban dan saksi hidup akan peristiwa tersebut telah diterbitkan. Karya-karya seni, sastra dan senirupa, tak kalah banyaknya mengenangkan apa yang terjadi pada era tersebut. Semua telah membentuk historiografi tersendiri mengenai peristiwa 1965.

Buku ini adalah biografi salah seorang saksi sekaligus korban dalam peristiwa tersebut. Ia adalah Misbach Tamrin, pelukis dan aktivis Sanggar Bumi Tarung (SBT), sebuah kelompok perupa muda yang berafiliasi dengan Lekra di Yogya, di paro pertama tahun 1960an.

Misbach turut ditangkap dan kemudian ditahan tanpa pengadilan selama 13 tahun di kota kelahirannya. Setelah bebas dari penjara, menariknya ia bekerja untuk mendirikan dan membuat monumen, taman kota, tugu, relief, dan lain-lain di kota-kota Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah. Setelah reformasi, ia kembali ke dunia seni rupa dan mengikuti sejumlah pameran, serta menghidupkan lagi SBT

Buku ini berisi riwayat perjalanan hidupnya sebagai pelukis dan aktivis kebudayaan kiri. Selama ini kisah tragik peristiwa 1965 ini banyak muncul di Jawa dan Bali. Yang menarik dari buku ini adalah karena ia mengangkat sosok di wilayah Kalimantan Selatan, yang selama ini jarang diketahui. Dengan demikian, buku ini melengkapi historiografi sejarah 1965, yang hingga kini pun masalahnya masih silang sengkarut.

 

Posted on

Student Soldiers; A Memoir of the Battle that Sparked Indonesia’s National Revolution

Penulis     : Suhario “Kecik” Padmodiwiryo

Cetakan    :

Tebal         : xviii + 204 hlm

Ukuran     : 15 x 23 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi :

Hario Kecik’s diary is without peer in Indonesian literature as a portrait of talented and brave young revolutionaries during the first days of the Republic which followed a brutal Japanese occupation and finally led to the November 1945 Battle for Surabaya, the longest, bloodiest and most decisive warfare in the Republic’s history.

More than one hundred thousand young men and women – the majority under twenty years of age – took up weapons against the modern British-Indian Army and arriving Dutch forces intending to re-establish Dutch colonial rule in the Indies.

For Indonesian readers, no period of Indonesian history will better repay study than the events in Surabaya in the last months of 1945, when the August 17 Proclamation of Independence seemed had become almost a dead letter as the British and Japanese forces to combined to put down Merdeka! movements in Bandung, Bogor, Cirebon and Semarang. Young readers, especially, will take courage and marvel at the bravery of school-aged boys taking up arms, while Indonesian readers in general will finally understand that while August 17 was the date of the Proclamation, independence was by no means guaranteed as city after city fell post-war to the British.

Surabaya and Hario’s Kecik’s generation changed all that