Posted on

Islam Santai

Penulis : Asep Zamzam Noor

Tebal : 324 hlm

Ukuran : 14 x 20 cm

Penerbit : Ircisod

Deskripsi :

”Jangan serius-seriuslah dalam beragama. Santai saja. Mari mendekat kepada Allah dengan santai, jangan petentengan.”—KH. Musthafa Bisri, kiai dan peraih anugerah gelar doctor honoris causa di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

”lslam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah. Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandanganpandangannya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu.”—Emha Ainun Nadjib, budayawan dan cendekiawan muslim penggagas Maiyah

Islam sesungguhnya hadir untuk melindungi umat manusia, bukan sebaliknya. Namun sayang, sebagian pemeluk Islam yang gagap realitas masih menganggap Islam sebagai agama ‘lemah’ yang butuh dilindungi dan dibela. Akibatnya, “perang” antar ormas yang secara angkuh mengaku membela Islam dan atau dengan kelompokkelompok lain kian memanas. Alhasil, agama terlihat lebih menegangkan daripada menenteramkan.

Buku Islam Santai karya Acep Zamzam Noor ini hadir sebagai oase di tengah pemahaman dan penghayatan keagamaan yang kian gersang. Meski mengaku berprofesi sebagai pelukis dan penulis puisi, pemahaman keislaman Acep juga tidak diragukan. Besar di lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Acep paham betul bahwa berislam semestinya membuat seseorang kian ramah, bukan malah mudah marah.

Kendati bermaksud mengemukakan wajah santai datam beragama, Acep tidak melulu membahas dinamika ajaran Islam dalam buku ini. Pembahasan ditarik ke ranah yang lebih luas, terutama berkenaan dengan pertalian Islam dengan kearifan lokal. Islam tidak mengharuskan kita hidup seragam dalam keberagaman. Sebab perbedaan merupakan suatu keniscayaan, maka menghargai perbedaan pun merupakan suatu kemestian. Selamat membaca!

 

Posted on

Seni Pertunjukan dari Perspektif Politik, Sosial, dan Ekonomi

Penulis     : R.M. Soedarsono

Tebal         : 440 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : UGM Press

Deskripsi :

Kehadiran buku berjudul Seni Pertunjukan: Dari Perspektif Politik, Sosial, dan Ekonomi ini merupakan upaya penulis untuk membantu para mahasiswa, khususnya mahasiswa pascasarjana dari bidang seni pertunjukan dalam memahami perkembangan seni pertunjukan lebih komprehensif, yang temyata banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal non seni. Di antara faktor-faktor eksternal yang sangat dominan pengaruhnya itu ialah politik, sosial, dan ekonomi. Sampai kini memang belum tampak adanya usaha penelitian tentang topik yang sangat menarik ini, selain beberapa tesis yang pernah dihasilkan oleh para mahasiswa penulis di bidang seni rupa dan desain. Sebagai contoh, ada mahasiswa yang meneliti tentang pengaruh Reformasi 1998 terhadap penampilan iklan rokok A Mild. Jelas, penelitian ini hanya bisa dilakukan karena adanya perkembangan politik di negara ,kita pada tahun 1998 yang ditandai oleh lengsernya Presiden Suharto dari kursi kepresidenan. Ada pula mahasiswa penulis yang mencermati penampilan komik “Panji Koming” yang dimuat dalam Harian Kompas pada era yang sama. Penelitian ini juga berkaitan dengan gerakan Reformasi 1998. Kedua peneliti tersebut membatasi jangka waktu penelitian hanya satu tahun, yaitu dari 1998 sampai 1999. Hasilnya sangat mengagumkan, bahwa perubahan kehidupan tata politik di negara kita pada tahun itu telah menggoncang para perencana iklan serta penulis komik untuk menghadirkan karya mereka yang khas, yang mengandung kritik politik dan sosial yang sangat menggelitik. Selain itu, dalam bidang seni pertunjukan ada pula yang mengamati statemen politik Presiden Gus Dur, yang dengan terbuka menyatakan, bahwa agama Khonghucu merupakan agama resmi yang harus diakui oleh bangsa Indonesia.

Posted on

Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi

Penulis     : R.M. Soedarsono

Tebal         : 418 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : UGM Press

Deskripsi :

Buku ini merupakan semacam ensiklopedia mini yang menyajikan secara lengkap perkembangan seni pertunjukan di Indonesia. Untuk itulah perlunya penelusuran sejarahnya sejak masa prasejarah hingga masa kini, karena ada beberapa bentuk seni pertunjukan yang jika dilihat dari aspek kesejarahannya jelas berasal dari zaman prasejarah namun masih dapat dinikmati di masa kini.
Seni pertunjukan itu sendiri memiliki tiga fungsi. Pertama, sebagai sarana ritual. Fungsi ini berkembang di kalangan masyarakat yang masih mengacu pada nilai-nilai budaya agraris dan masyarakat yang memeluk agama yang dalam kegiatan ibadahnya sangat melibatkan seni pertunjukan. Kedua, sebagai hiburan pribadi. Dalam fungsi ini, umumnya penikmatnya adalah kaum pria sedangkan penari wanita lebih berperan sebagai yang menghibur. Dan fungsi yang terakhir adalah sebagai presentasi estetis, yaitu sebuah ruang bagi seniman untuk menampilkan karyanya di hadapan khalayak umum.
Pada bagian ketiga buku ini menjelaskan lebih detail berbagai seni pertunjukan yang berfungsi sebagai presentasi estetis serta hubungannya dengan pariwisata di era globalisasi, di mana seni pertunjukan menjadi sebuah komoditas yang dijual untuk para wisatawan

Posted on

26 Minuman Tradisional Khas Yogyakarta Dari Bir Jawa sampai Wedang Uwuh

Penulis     : Murdijati Gardjito dan Retnosyari Septiyani

Tebal         : x + 102 hlm

Ukuran     : 16 x 23 cm

Penerbit   : Andi

Deskripsi :

Bir Jawa yang kemudian bertransformasi menjadi Wedang Uwuh, merupakan minuman tradisional asli Jogja. Masalah klasik yang dihadapi adalah tidak ditemukannya resep autentik dan kesinambungan tersedianya bahan baku untuk menjamin mutu dan pemasarannya. Buku ini, antaralain disusun sebagai pegangan dalam mengenal, memahami, serta mengembangkan minuman tradisional lainnya yang melejit di masyarakat yang diawali dengan wedang uwuh. Ada sekitar 24 resep minuman tradisional dari Jogja dan sekitarnya, dari Wedang Ronde, Setup, Bandrek, Bir Pletok hingga Wedang Salam. Tidak main-main buku ini ditulis bersama penulis yang bergerak di bidang eksplorasi serta peneliti makanan tradisional, sekaligus praktisi yang mengembangkan produk ini yang telah dipromosikan di Malaysia, Singapura, Jepang, dan Saudi Arabia. Pasti luar biasa! Selamat membaca dan menikmati

Posted on

Soto, Nikmat Dari Indonesia Untuk Dunia

Penulis     : Forum Kuliner Indonesia (Forkomkulindo)

Tebal         : xvi + 240 hlm

Ukuran     : 16 x 23 cm

Penerbit   : Andi

Deskripsi :

Melalui survei CNN, Soto Ambengan Pak Sadi dari Surabaya dipuji dan diakui dunia sebagai salah satu dari 20 makanan lezat tingkat Asia yang surveinya dilakukan pada tahun 2007. Menyadari bahwa makanan menjadi salah satu identitas bangsa, maka saat ini semakin banyak pemerhati industri kuliner mulai merapatkan diri dan membentuk Forum Komunikasi Kuliner Indonesia (Forkomkulindo)serta mencoba mengusung Soto sebagai salah satu ikon kuliner Indonesia. Mengapa? Karena ternyata hampir sebagian besar daerah di Indonesia memiliki berbaga ragam jenis soto yang khas menurut daerahnya masing-masing.
Buku: Soto, Nikmat Indonesia untuk Dunia ini, berisi tentang sejarah, profil, selain berbagai macam resep dan hal-hal terkait kuliner soto ini sangat penting dan bermanfaat bagi para pemerhati kuliner dan berbagai kalangan termasuk akademisi, peneliti, pelaku usaha, instansi pemerintah dan masyarakat umum. Sangat bermanfaat juga bagi para pebisnis kuliner yang ingin mengembangkan usaha kuliner soto, karena didalamnya juga disertakan bagaimana mendesain warung Soto yang bisa menampilkan citra identitas bangsa dan menambah daya tarik Indonesia. Bagaimana menjaga keamanan higienitas dan sanitasi-nya, disamping itu juga menjaga aspek kehalalannya. Maka buku ini merupakan startup bookyang paling tepat untuk dimiliki para pebisnis kuliner (terutama untuk kuliner di bidang soto) sebelum memulai usahanya.
Selamat membaca dan menikmati Soto, Nikmat Indonesia untuk Dunia.

Posted on

Jejak Budaya Dayak Meratus dalam Perspektif Etnoreligi

Penulis     : Hartatik

Tebal         : 188 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi :

Pada masa kolonial, kata dayak dan melayu digunakan oleh para peneliti pada masa itu untuk membedakan antara penduduk Kalimantan yang masih menganut kepercayaan leluhur dan yang telah menjadi muslim. Penduduk yang muslim dan tinggal di sekitar muara disebut orang Melayu, sedangkan yang tinggal di bagian hulu dan menganut kepercayaan leluhur disebut Dayak. Pada masa itu kata dayak sering digunakan dalam konotasi yang negatif dan rasis sehingga banyak yang merasa tidak nyaman menjadi orang Dayak. Seiring dengan berjalannya waktu, kini istilah Dayak telah menjadi sebuah identitas etnis yang membanggakan. Orang tidak malu-malu lagi menyebut dirinya sebagai orang Dayak. Tapi, benarkah Dayak Meratus merupakan bagian dari suku Dayak Ngaju? Ada tiga hal utama yang akan disampaikan melalui buku ini, yaitu religi, peralatan tradisional, dan rekonstruksi identitas Dayak Meratus.
Buku ini mengungkap bukti-bukti arkeologis dan etnografi yang kemudian dianalisis dengan pendekatan etnoarkeologi dan sejarah. Data primer dalam buku ini diperoleh dari penelitian tahun 2011 di Kabupaten Balangan, tahun 2012 di Kotabaru, dan tahun 2013 di Paramasan Kabupaten Banjar. Penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode survei (observasi) dan wawancara. Sebagian besar data primer bertumpu pada data etnografi, terutama yang berkaitan dengan konsep dan peralatan religi. Sebagai sebuah peneltian arkeologi etnografi, penulis berupaya menggali informasi etnografi dari pemillik idioteknik (narasumber) semaksimal mungkin.

Posted on

Identitas Wong Banyumas

Penulis     : Teguh Trianton

Tebal         : x + 80 hlm

Ukuran     :

Penerbit   : Graha Ilmu

Deskripsi:

Diskursus ihwal identitas tidak pernah tuntas dari pertarungan perebutan batas makna waktu dan ruang studi budaya. Identitias dalam konteks budaya menjadi demikian penting. Ia menjadi penanda seberapa besar seseorang merasa sebagai bagian dari sebuah entitas budaya atau etnis tertentu dan bagaimana identitas ini memengaruhi perasaan, persepsi dan perilakunya. Identitas budaya tidak pernah lepas dari faktor psikologis pribadi terhadap kelompoknya.
Kontestasi tentang batas pemaknaan identitas ini selalu menarik, lantaran identitas bukan sesuatu yang tetap, ia selalu berubah. Konstruksi identitas dibangun melalui proses yang panjang. Batas identitas selalu memunculkan titik perbedaan, ia terus bergerak selaras dengan perkembangan peradaban. Identitas dalam konstruksi budaya selalu mengalami pergeseran, perubahan, lentur, bahkan luntur. Jika kebudayaan yang dianut sekelompok orang mulai luntur, maka luntur pula identitas anggota kelompok tersebut. Di sinilah pentingnya konservasi nilai-nilai budaya guna meneguhkan konstruksi identitas dan jati diri bangsa.
Anasir budaya sebagai konstruksi jadi diri dapat digali dari khasanah teks sastra, sebab sastra tidak pernah lahir dalam situasi yang kosong budaya. Karya sastra acap kali lahir sebagai respon sastrawan terhadap situasi sosial budaya yang melingkupinya. Sastra dapat lahir sebagai resistensi terhadap dominasi, pada saat yang sama ia hadir sebagai wujud penerimaan kondisi budaya. Karya sastra secara simultan merefleksikan jati diri penulisnya sekaligus merepresentasikan identitas kultural masyarakat di sekitarnya.
Buku ini berupaya mendokumentasikan identitas kultural wong Banyumas asli yang terepresetasi dalam teks sastra. Buku ini hadir sebagai rujukan budaya tentang identitas yang genuin wong Banyumas, yang saat ini telah mengalami pergeseran. Pada sisi yang lain, buku ini ditulis sebagai sebuah upaya konservasi teks kearifan lokal Banyumas.