Posted on

Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia (Jilid I)

Penulis     : B. J. O. Schrieke

Tebal         : xxiv + 307 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi :
…. [Schrieke], seorang ilmuwan sederhana yang lahir dari dunia kolonial, namun telah memberikan sumbangan besar bagi kajian sosial-humaniora tentang Indonesia melalui pendekatan historis-sosiologisnya. Dasar pemikiran yang dikembangkan Schrieke menjadi tonggak penting dalam perkembangan dasar pemikiran historiografi Indonesiasentris yang mampu keluar dari batas-batas nasionalisme sempit, dengan tanpa melupakan akar kebangsaannya yang merupakan proses panjang sejak masa lalu. Sejarah Indonesia bukan hanya sejarah pada lokalitasnya yang terbatas, melainkan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari jejaring sejarah dunia dan umat manusia yang lebih luas.
(Prof. Dr. Bambang Purwanto, Guru Besar Ilmu Sejarah UGM)
…. Ingatan akademik paling berkesan bagi saya sewaktu menjadi mahasiswa sejarah tingkat sarjana muda ialah saat membaca edisi terjemahan bahasa Inggris buku Schrieke inisuatu perasaan sok, terkejut, bingungtetapi akhirnya mencerahkan bahwa sejarah rupanya bukan melulu cerita isu politik an sich, melainkan sebuah samudera fakta yang hampir sama luasnya dengan zaman kini dan dapat digali dari berbagai perspektif.
(Prof. Dr. Mestika Zed, Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Padang)

Posted on

Perdagangan Asia dan Pengaruh Eropa di Nusantara Antara 1500 dan Sekitar 1630

Penulis     : M. A. P. Meilink-Roelofsz 

Tebal         : 578 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi :

“Karya Meilink-Roelofsz merupakan buah ketekunan seorang arsiparis yang disertai dengan ketajaman analisa seorang sejarawan. Dengan mempertajam argumen-argumen yang pernah diajukan oleh J. C. van Leur, Meilink-Roelofsz membuktikan bahwa dunia perdagangan maritim Indonesia di abad ke-16 memiliki dinamikanya sendiri dan tidak bisa disederhanakan sekedar sebagai bagian dari sejarah kolonial.”
(Dr. Bondan Kanumoyoso, dosen Departemen Ilmu Sejarah UI)

“Buku ini merupakan karya penting lain tentang sejarah modern awal Nusantara sebelum kedatangan Eropa yang ditulis oleh sejarawan sekaligus arsiparis terkemuka Belanda. Berbeda dengan sejarawan kolonial Belanda sebelumnya, M. A. P. Meilink-Roelofsz menyebut kawasan Nusantara ini sebagai Kepulauan Melayu-Indonesia. Dalam beberapa isu, Meilink-Roelofsz memberikan kritik dan koreksi kritis terhadap karya J. C. van Leur. Misalnya tentang kemunculan Islam dan peran penting pedagang Arab dan Persia dalam perdagangan di kawasan ini. Oleh karena itu, buku ini bisa dijadikan sebagai referensi penting berikutnya bagi mahasiswa, peneliti, dan penikmat sejarah Nusantara yang telah membaca karya J. C. van Leur sebagai referensi pertama.”
(Dr. Abdul Wahid, dosen Jurusan Ilmu Sejarah UGM)

Setidaknya buku M. A. P. Meilink-Roelofsz ini memiliki empat kelebihan utama: pertama, karya ini merupakan pelengkap atau penyempurna dari karya-karya sejarah maritim sebelumnya, seperti karya B. J. O Schrieke (1955; 1957) dan J. C. van Leur (1934; 1960); kedua, karya ini bahkan mampu mengoreksi berbagai argumentasi tentang dunia niaga dan perkapalan Nusantara yang diajukan kedua penulis sebelumnya (Schrieke dan va Leur); ketiga, karya ini memiliki kelebihan dalam sumber, karena menggunakan sumber-sumber VOC dan Portugis yang tidak dipergunakan Schrieke dan van Leur; keempat, sehubungan dengan pemakaian sumber, karya ini menggunakan pendekatan historis, sedangkan Schrieke dan van Leur lebih cenderung ke pendekatan sosiologis. Dengan kelebihan-kelebihan ini, membaca buku ini mengantarkan kita pada sebuah pemahaman bahwa dunia maritim Nusantara sesungguhnya sangat dinamis dan bergairah jauh sebelum kedatangan bahwa Eropa umumnya dan Belanda (VOC) khususnya
(Gusti Asnan, Guru Besar Sejarah Universitas Andalas Padang; penulis buku Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra).

 

Posted on

Sejarah Intelektual

Penulis     : Leo Agung

Tebal         : 245 hlm 

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi :
Sejarah intelektual sebagai studi tersendiri muncul di Eropa pada awal abad ke-20. Sejarah intelektual lebih menekankan pada pemikiran, ide-ide, atau nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan umat manusia dari masa kuno hingga dewasa ini.
Sejarah intelektual yang akan dibahas dalam buku ini antara lain: munculnya sejarah intelektual, feodalisme dan ideologi tradisonal, pemikiran modern, ideologi modern, perkembangan ideologi modern, peradaban Barat dan Timur, perkembangan IPTEK dan pengaruhnya. Untuk lebih memperkaya konseptualisasi mengenai sejarah intelektual, dalam buku ini dilampirkan dua tulisan dari pakar sejarah Indonesia, yaitu tulisan Sartono Kartodirdjo dan Kuntowijoyo.
Kepada para pembaca semoga buku ini dapat memenuhi kebutuhan akan bacaan sejarah intelektual dan memberikan inspirasi, khususnya bagi atmosfir intelektual Indonesia yang akhir- akhir ini tampak sangat kering. Terima kasih dan selamat membaca.

Posted on

Di Belanda tak Seorang pun Mempercayai Saya

Penulis     : Maarten Hidskes

Tebal         : xxx + 298 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi :

Pada bulan Juli 1946 Piet Hidskes mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pada Depot Speciale Troopen (DST, Depot Pasukan Khusus), korps elite dari Koninklijke Nederlansch-Indisch Leger (Pasukan Hindia-Belanda) di bawah komando Kapten Westerlingyang menerima carte blanche untuk menumpas pemberontakan di Indonesia dan melakukan aksi-aksi pembersihan. Setelah mengikti pelatihan selama enam bulan, Hidskes ditempatkan di Sulawesi Selatan. Dia kemudian terlibat dalam ‘Peristiwa Sulawesi Selatan’. Hidskes tidak menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi di sana. Siapa yang akan mempercayainya?

Ketika dia meninggal dunia pada tahun 1992, cerita itu dia bawa masuk ke liang lahat. Kenapa dia selama lima puluh tahun membungkam diri tentang semua pengalamannya di Sulawesi Selatan? Sejauhmana keterlibatannya dalam pelaksanaan aksi-aksi pasukan Westerling dilakukannya dengan sukarela?

Anaknya, Maarten Hidskes, memutuskan untuk menyelidiki peran ayahnya di Sulawesi sampai mendasar. Dia mendapatkan kepercayaan dari beberapa mantan tentara komando dari regu pasukan ayahnya, menganalisis surat-surat yang dikirim ayahnya dari Hindia, dan mempelajari laporan-laporan intelijen tentang teror di Sulawesi. Dengan cara yang mengharukan, Maarten berhasil menyusun rekonstruksi masa lalu perang dari ayahnya.

 

Posted on

Sneevliet: Munculnya Gerakan Komunis di Indonesia (1913-1918)

Penulis     : Kalam Jauhari

Tebal         : 324 hlm

Ukuran     : 13 x 19 cm

Penerbit   : Octopus

Deskripsi :

Henk Sneevliet tiba di Indonesia pada 1913. Ia bekerja sebagai editor di Soerabajaasch Handelsblaad (Surat Kabar Niaga Surabaya). Sesudah mendirikan ISDV dan pindah ke Semarang, dia segera menerbitkan majalah Het Vrije Woord (Kata yang Bebas). Ia juga menjadi editor surat kabar VSTP, yakni De Volharding (Perlawanan) dan menulis untuk berbagai media yang berada di bawah payung organisasi pergerakan lokal.

Selain itu Sneevliet adalah seorang organisatoris, propagandis, dan orator. Ia mengabdikan hidupnya untuk sosialisme yang dianutnya. Namun hidupnya berakhir setelah ia ditembak mati oleh tentara Jerman pada 13 April 1942 di Amsterdam, karena ia menjadi aktivis anti-fasis yang menentang pendudukan Nazi atas Belanda.

Sneevliet adalah tokoh Kiri yang unik. Ia tidak pernah sepenuhnya cocok atau menerima begitu saja pemikiran dan gerakan Kiri yang sudah ada. Ia cenderung mengikuti kata hatinya dan berupaya menyesuaikan ide2 sosialis dengan kondisi masyarakat pada masa itu. Itulah sebab ia sering masuk dan keluar suatu organisasi, membentuk sayap radikal di dalam organisasi tersebut, atau berpisah dan mendirikan organisasinya sendiri.

Posted on

Cita-Cita Seni Lukis Indonesia Modern 1900-1995: Sebuah Kreasi Identitas Kultural Nasional

Penulis     : Helena Spanjaard

Tebal         : 338 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi :

Istilah “Seni lukis Indonesia” di dunia Barat memunculkan berbagai asosiasi stereotipe tertentu. Terutama di Belanda, “Seni lukis Indonesia” dengan cepat dihubungkan dengan seni lukis batik Yogyakarta yang ditujukan untuk para wisatawan atau dengan seni lukis populer Bali yang berasal dari desa Ubud. Selain itu istilah “Seni lukis Indonesia” diasosiasikan dengan berbagai hal yang berbalut romantisme dan eksotisme dari masa kolonial. Dengan ini Hindia belanda digambarkan dengan gunung-gunung berapi yang menjulang tinggi dan selalu tertutup kabut, hamparan sawah-sawah yang menghijau, pohon-pohon kelapa yang melambai-lambai dan para gadis Bali yang murah senyum.

Dalam hal ini di Indonesia sebenarnya terdapat sebuah bentuk seni lukis modern yang harus ditempatkan di dalam kader perkembangan internasional di bidang seni modern. Perkembangan seni lukis Indonesia modern ini terjadi di dalam konteks intelektual, kekotaan dan tergantung kepada hasil yang dicapai oleh nasionalisme yang sedang mengalami kebangkitan. Berbeda dengan seni Indonesia untuk kepentingan pariwisata dan seni kolonial maka bentuk seni lukis Indonesia modern ini kurang dikenal di dunia Barat.

Posted on

Sejarah Arab Sebelum Islam Jilid 2

Penulis     : Jawwad Ali

Tebal         : 664 hlm

Ukuran     : 15 x 23 cm

Penerbit   : Alvabet

Deskripsi :

Arab adalah salah satu peradaban penting dan berpengaruh yang pernah ada—bahkan sampai sekarang—di dunia. Ketermasyhuran Arab tidak hanya ada pada masa Islam, tetapi juga pada zaman kuno sebelum kemunculan Islam dan ekspansi kaum Muslim ke negeri-negeri lain melalui penaklukan. Sejarah peradaban Arab-Islam telah banyak kita ketahui. Tetapi, riwayat Arab kuno sebelum Islam mungkin tak banyak yang paham. Seperti apakah “wajah” Arab sebelum Islam?

Dalam buku yang terbagi sembilan jilid ini, Jawwad Ali, seorang sejarawan masyhur, mengisahkan secara gamblang riwayat (bangsa) Arab kuno dari berbagai aspek: geografi, iklim, karakteristik, silsilah; politik, hukum, dan pemerintahan; sosial-budaya; agama dan kepercayaan; sumber daya alam dan perekonomian; bahkan bahasa, literasi, dan kesusastraan. Merujuk pada sumber-sumber klasik seperti manuskrip-manuskrip, artefak-artefak, catatan-catatan orang Yunani, Romawi, Ahli Kitab (Yahudi), serta ditopang penemuan mutakhir ahli arkeologi, buku ini memaparkan dengan narasi yang lugas, deskripsi yang jelas, pengamatan mendalam dan penjelasan komprehensif perihal bangsa Arab kuno sebelum Islam.

 

Posted on

Sejarah Arab Sebelum Islam Jilid 1

Penulis     : Jawwad Ali

Tebal         : 850 hlm

Ukuran     : 15 x 23 cm

Penerbit   : Alvabet

Deskripsi :

Sejarah Arab Sebelum Islam

(1) Geografi, Iklim, Karakteristik, dan Silsilah (2) Daulah, Mamlakah, Kabilah, dan Imarah (3) Daulah, Mamlakah, Kabilah, dan Imarah [Lanjutan] (4) Kondisi Sosial-Budaya (5) Politik, Hukum, dan Tata Pemerintahan (6) Agama dan Kepercayaan (7) Sumber Daya Alam dan Perekonomian (8) Bahasa dan Literasi (9) Kesusastraan

Arab adalah salah satu peradaban penting dan berpengaruh yang pernah ada—bahkan sampai sekarang—di dunia. Ketermasyhuran Arab tidak hanya ada pada masa Islam, tetapi juga pada zaman kuno sebelum kemunculan Islam dan ekspansi kaum Muslim ke negeri-negeri lain melalui penaklukan. Sejarah peradaban Arab-Islam telah banyak kita ketahui. Tetapi, riwayat Arab kuno sebelum Islam mungkin tak banyak yang paham. Seperti apakah “wajah” Arab sebelum Islam?

Dalam buku yang terbagi sembilan jilid ini, Jawwad Ali, seorang sejarawan masyhur, mengisahkan secara gamblang riwayat (bangsa) Arab kuno dari berbagai aspek: geografi, iklim, karakteristik, silsilah; politik, hukum, dan pemerintahan; sosial-budaya; agama dan kepercayaan; sumber daya alam dan perekonomian; bahkan bahasa, literasi, dan kesusastraan. Merujuk pada sumber-sumber klasik seperti manuskrip-manuskrip, artefak-artefak, catatan-catatan orang Yunani, Romawi, Ahli Kitab (Yahudi), serta ditopang penemuan mutakhir ahli arkeologi, buku ini memaparkan dengan narasi yang lugas, deskripsi yang jelas, pengamatan mendalam dan penjelasan komprehensif perihal bangsa Arab kuno sebelum Islam.