Posted on

Sistem Presidensial Indonesia dari Soekarno ke Jokowi

Penulis     : Sarah Nuraini Siregar (Editor)

Tebal         : xxiv + 490 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi :

Sejak dimulainya reformasi tahun 1998, Indonesia memasuki fase sejarah politik baru. Salah satunya adalah upaya “pemurnian” sistem demokrasi presidensial melalui amandemen konstitusi sejak tahun 1999 hingga 2002. Sebagian besar upaya pemurnian sistem demokrasi presidensial melalui amandemen UUD 1945 dapat dikatakan berhasil. Pelembagaan tiga prinsip pokok sistem presidensial terpenuhi, yakni (1) presiden dipilih untuk masa jabatan yang bersifat tetap; (2) presiden dipilih secara langsung oleh rakyat atau melalui dewan pemilih (electoral college); dan (3) presiden merupakan kepala eksekutif yang bersifat tunggal. Tiga prinsip tersebut tidak hanya telah dilembagakan melalui perubahan pasal-pasal UUD 1945, melainkan juga telah diimplementasikan dalam praktik kehidupan politik bangsa Indonesia sejak Pemilu 2004.

 

Namun demikian, obsesi untuk memurnikan dan memperkuat sistem demokrasi presidensial  tidak sepenuhnya terpenuhi. Sistem saling mengawasi secara seimbang (checks and balances) antara lembaga eksekutif dan legislatif misalnya, tidak dilembagakan secara kuat karena presiden tidak memiliki hak veto. Selain itu, obsesi atas presidensialisme tidak didukung dengan pelembagaan sistem perwakilan dan sistem kepartaian yang compatible. Dalam konteks sistem kepartaian, praktik demokrasi presidensial cenderung terpenjara oleh sistem multipartai ekstrem yang menghasilkan struktur politik fragmentatif di parlemen.

 

Buku ini hendak membahas dinamika dan efektivitas kinerja sistem demokrasi presidensial Indonesia dari masa ke masa atas dasar beragam faktor pengaruh yang dikemukakan tersebut. Secara teoritis sistem demokrasi presidensial dalam buku ini adalah sistem pemerintahan yang menempatkan Presiden sebagai pusat kekuasaan eksekutif sekaligus pusat kekuasaan negara. Atas dasar itu akan tampak mengapa pada waktu-waktu tertentu sistem presidensial bisa bekerja dan pada waktu atau periode lain tidak bisa bekerja. Juga menarik dikaji lebih jauh, aspek institusional dan noninstitusional yang perlu diperbaiki dalam rangka penyempurnaan sistem presidensial ke depan, sehingga pada akhirnya bisa mewadahi kebutuhan bangsa kita akan sebuah sistem pemerintahan yang tidak hanya demokratis, tetapi juga stabil dan efektif –dalam arti, bekerja untuk kepentingan rakyat.

Posted on

Ancaman ISIS di Indonesia

Penulis     : Poltak Partogi Nainggolan

Tebal         : xvi + 238 hlm

Ukuran     : 15,5 x 23 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi :

Munculnya ISIS/IS dan ancaman yang diciptakannya telah melahirkan kewaspadaan tinggi di berbagai negara dan memaksa pemimpin mereka untuk meresponsnya dengan cepat dan efektif, sejak dari hulu hingga hilirnya. Termasuk upaya di bagian hulunya dalam hal ini adalah pekerjaan penyiapan legislasi, sehingga dapat memetakan permasalahan dan tingkat ancaman yang diberikan secara komprehensif dan tepat. Untuk itu, dibutuhkan sebuah penelitian yang mendalam, yang dapat memberikan gambaran yang utuh, dengan data atau informasi yang komprehensif mengenai sifat dan besarnya ancaman yang datang dari ISIS/IS ke negara Indonesia.

Sebagai sebuah negara, Indonesia sangat terancam, karena kondisinya yang amat beragam dalam berbagai hal, dan letaknya yang strategis, sekaligus rawan, di persimpangan jalur pelayaran dunia. Indonesia menjadi sangat terancam, karena pekerjaan rumahnya selama ini yang belum dapat diselesaikan, terkait pembangunan manusia dan karakter bangsa, serta pembangunan fisik dalam penciptaan kesejahteraan dan keadilan sosial di berbagai bidang. Dengan kondisinya sebagai negara yang sangat terbuka aksesnya untuk dimasuki warga berbagai bangsa dan pendatang dari berbagai penjuru dunia, negeri ini menjadi incaran yang menggiurkan para pengikut, pendukung, dan simpatisan ISIS/IS untuk dipengaruhi dan dijadikan bagian dari gerakan khilafah sejagat ISIS/IS di bawah pemimpin mereka di Suriah dan Irak, Abu Bakar al-Baghdadi.

ISIS/IS merupakan gerakan sektarian global, yang antikeberagaman, dan dikelola di bawah kekuasaan yang monolitik dan represif. Mereka secara realistis tidak menghendaki sama sekali kehadiran sebuah negara bangsa dan modern, yang dipersatukan oleh gagasan nasionalisme dan cita-cita negara bangsa, serta yang mendasarkan diri pada ideologi modern lainnya. ISIS/IS tentu saja juga tidak menghendaki terbentuk dan bertahannya sebuahimagined community seperti Indonesia, yang sudah dicita-citakan dan diperjuangkan dengan segala pengorbanan oleh para pendiri dan mereka yang hendak mempertahankannya.

 

Posted on

Islamisasi Bugis

Penulis     : Andi Muhammad Akhmar

Tebal         : xvi + 566 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Obor Indonesia

Deskripsi :

Kedatangan Islam di kalangan orang Bugis pada masa lampau membawa dampak terhadap kehidupan bersastra. Dampak yang pertama terlihat dalam komposisi baris-baris La Galigo versi Bottinna I La Déwata Sibawa Wé Attaweq (BDA)dalam bentuk formula-formula doa dalam bahasa Arab, ayat Alquran, dan  nama-nama Allah (asmaul husna). Unsur-unsur baru ini menyebabkan perubahan aturan perpuisian metrum lima atau empat suku kata setiap segmen yang sebelumnya berlaku ketat dalam La Galigo. Dampak kedua terlihat dengan munculnya sejumlah nama tokoh dalam La Galigo versi BDA yang sebelumnya tidak dikenal dalam epos La Galigo seperti Jalilullah, Nabi Adam, Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad, Nabi Khaidir, dan Datu Hindi. Sejumlah tokoh Islam ini dihadirkan dalam suatu hubungan genealogi dengan tokoh dalam mitos La Galigo.

Perubahan komposisi, baik dalam bentuk penambahan dan pengurangan maupun pemutarbalikan dalam teks La Galigoversi Bottinna I La Déwata Sibawa Wé Attaweq (BDA) merupakan wujud kebebasan penyair atau penulis. Namun, kebebasan penyair tersebut tetap dalam bingkai. Bingkainya adalah (1) tema perkawinan di kalangan keturunan Batara Guru atau kerabatnya, (2) tokoh-tokohnya adalah dari kalangan dewa atau keturunannya yang berkuasa di bumi (dinasti Batara Guru), dan (3) penggunaan nama tempat yang meliputi Dunia Atas, Dunia Tengah, dan Dunia Bawah. Dengan demikian, cerita-cerita baru atau yang telah mendapatkan unsur-unsur baru tetap menjadi bagian dari warisan sastra Galigo.

Kehadiran unsur Islam dalam Galigo versi BDA tidak menggeser keberadaan kepercayaan lama, melainkan disajikan secara berdampingan. Hal seperti ini menunjukkan kreativitas penyair yang memanfaatkan sastra yang telah mapan dalam komunitas Bugis untuk misi pengislaman. Islamisasi yang menggunakan sastra sebagai medianya tersebut menggunakan pendekatan kompromis. Para penganjur Islam saat itu menyadari bahwa sangat tidak mudah untuk mengganti suatu bentuk kepercayaan yang telah lama bersenyawa dalam jiwa suatu masyarakat dan menggantinya dengan yang baru. Langkah awal islamisasi Bugis ini adalah menggeser konsep kepercayaan kepada Déwata Séuwaé (Tuhan Yang Maha Esa) dengan konsep Allah Subhanahu Wa Taala melalui ajaran-ajaran tauhid.

 

Posted on

Manajemen Bencana dan Kapabilitas Pemerintah Lokal

Penulis     : Bevaola Kusumasari

Tebal         : xii + 142 hlm

Ukuran     : 16 x 23 cm

Penerbit   : Gava Media

Deskripsi :

Buku ini menjelaskan tetntang manajemen bencana dari perspektif manajemen publik, kebaruan dari buku ini adalah menawarkan tinjauan teoritis tentang kemampuan organisasi dalam manajemen bencana, peran pemerintah daerah dalam manajemen bencana dan lesson learnt sebuah pemerintah daerah dalam mengelola bencana.

Buku ini layak dibaca bagi para mahasiswa ataupun pemerhati bencana, karena sarat akan informasi yang dapat memperkaya khasanah ilmu manajemen bencana dari kacamata ilmu sosial.

 

Posted on

Hamparan Wacana: Dari Praktik Ideologi, Media, hingga Kritik Poskolonial

Penulis     : Wening Udasmoro (Penyunting)

Tebal         : 225 hlm

Ukuran     : 16 x 24 cm

Penerbit   : Ombak

Deskripsi :

Ide buku ini adalah untuk memberikan gambaran bahwa analisis wacana sebagai pendekatan, teori dan metode tidak bersifat tunggal, meskipun ada fondasi-fondasi yang tidak dapat ditinggalkan dalam cara analisisnya. Berbagai teori dan metode analisis wacana, yakni dari pemikiran Michael Foucault, Norman Fairclough, Teun Van Dijk, Ruth Wodak, Gunther Kress dan Theo van Leeuwen, Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, John Austin, Dell Hymes, dan Gayatri Spivak, diketengahkan secara komprehensif sekaligus dengan cara beroperasinya. Contoh doing discourse menjadi kekuatan dari tulisan-tulisan di buku ini. Pengoperasian teori dan metode menjadi sangat penting mengingat banyaknya buku analisis wacana yang ditulis oleh para ahli, tetapi secara aplikatif dan bagaimana teori serta cara berpikir dengan metode tersebut berfungsi, terutama dalam konteks wacana sehari-hari, media, dan dalam pengalaman sosiologis yang lain, seringkali masih marginal di dalam buku-buku tesebut. Sementara itu, konsep kritik poskolonial di sini berfungsi sebagai sebuah framework  dalam tataran empiris di dalam hampir semua tulisan tanpa harus selalu menyebutkan bahwa itu persoalan poskolonial. Hal ini karena mentalitas poskolonial menghantui dan hadir di hampir setiap wacana dan prakti-praktik sosial kita sehari-hari seperti yang dicontohkan dalam tulisan-tulisan di buku ini.

Posted on

Catatan Pemikiran Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan tentang Wahabisme

Penulis     : Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan

Tebal         : 252 hlm

Ukuran     : 14 x 21 cm

Penerbit   : Wali Pustaka

Deskripsi:

Buku Catatan Pemikiran Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan tentang Wahabisme adalah rangkuman pemikiran Sayid Ahmad dalam melihat gerakan wahabisme secara proporsional, akedemis dan berfokus pada pokok permasalahan, yaitu dasar pemikiran dan gagasannya.
Wahabi atau lebih tepatnya Wahhabisme (وهابية, Wahhābiyah) adalah aliran reformasi keagamaan dalam Islam yang dikembangkan pertama kali pada abad ke-18 oleh ulama asal Najd, Arab Saudi, bernama Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792 M).
Seiring waktu, kehadiran mazhab ini mendulang kontroversi yang terus terjadi hingga sekarang. Hal ini terjadi karena karakter Mazhab Wahabi yang dinilai keras, kaku, hitam-putih dan mudah menyesatkan atau mengkafirkan orang/kelompok lainnya. Misalnya berkaitan dengan amalan-amalan sunah, seperti ziarah kubur, tawasulan, tabarukan, istiqhosah, maulid nabi, dll.
Ditulis oleh seorang yang menyaksikan kemunculan mazhab ini secara langsung, Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan (1816-1886 M)—mufti terakhir kota Mekah dan Madinah ketika kawasan Hijaz (Arab Saudi) masih di bawah kekuasaan Kesultanan Turki Ustmani. Beliau juga keturunan langsung Nabi Muhammad dari jalur sayidina Hasan sekaligus guru dari banyak ulama nusantara.
Buku ini dapat menjadi rujukan lengkap umat Islam Indonesia dalam mendiskusikan kontroversi pemikiran mazhab Wahabi sekaligus upaya kita mengembalikan ajaran Islam yang lebih damai dan menghargai perbedaan.
ISI BUKU INI:
• Sejarah perjalanan Mazhab Wahabi
• Penjelasan atas Mazhab Wahabi
• Bantahan terhadap pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab
• Paparan akademis tentang kesalahan Wahabi
• Dalil-dalil dari al-Quran dan Hadits

Posted on

Manajemen Strategik

Penulis     : Hadari Nawawi

Tebal         : 461 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : UGM Press

Deskripsi :

“Tidak banyak orang yang bisa saya ajak bicara tentang visi dan misi organisasi ini. Ada semacam kendala buat mereka bicara perkara visi dan misi itu. Mereka lebih tertarik bicara perkara yang praktis-praktis saja, seperti target kerja individu dan sebagainya. Akibatnya, saya mengalami kesulitan untuk menempatkan diri saya dalam organisasi ini.”

Itu keluhan yang pernah diungkapkan oleh seorang individu yang baru saja menjadi anggota sebuah organisasi nonprofit. Keluhan itu sebenarnya wajar saja, mengingat sebagian kita memang enggan memikirkan hal-hal yang mendasar tentang sebuah organisasi. Tetapi, idealnya keluhan itu tidak harus muncul. Para anggota sebuah organisasi nonprofit harus tahu betul apa yang terjadi pada organisasi itu sebelum mereka menjadi anggotanya. Bagaimanapun mereka menjadi bagian dari organisasi itu.

Buku ini sebenarnya bisa membantu individu dengan keluhan di atas. Menjelaskan secara panjang lebar anatomi organisasi nonprofit, manajemen fungsional organisasi nonprofit, fungsi dalam manajemen organisasi nonprofit, majanemen pengendalian mutu organisasi nonprofit, pengembangan organisasi di lingkungan organisasi nonprofit, dan sebagainya. Dari semua penjelasan itu, pembaca bisa menyimpulkan manajemen strategik untuk sebuah organisasi nonprofit. Yang terakhir ini sedang dicari banyak orang. Tidak heran bila buku ini sudah mengalami cetak ulang berkali-kali.

 

Posted on

Ekranisasi Awal: Bringing Novels to The Silver Screen in The Dutch East Indies

Penulis     : Christopher A. Woodrich

Tebal         : 118 hlm

Ukuran     : 15,5 x 23 cm

Penerbit   : UGM Press

Deskripsi :

In the early 20th century, the Dutch East Indies was a colony in flux. Greater access to education meant an increasingly literate financial elite and, thus, a burgeoning literary industry. The lower class, meanwhile, found its entertainment in stage performances—oral literature often loosely adapted from famous novels. The film industry itself was attempting to find a successful formula, and in its early years faced heavy competition from the theatre. Educated women called for women’s rights and protection of women’s welfare as the economy began to transform from one based on the production of raw goods to one based in manufacturing.

In this turbulent background, the social act of adapting films from novels emerged. This phenomenon began in 1927 with the adaptation of Eulis Atjih by G. Krugers and ended in 1942—before the Japanese occupation—with the adaptation of Siti Noerbaja by Lie Tek Swie. A total of eleven films were adapted from eight novels in the Indies. Only one author had multiple works adapted, and two novels were adapted more than once. The nine producers and directors involved in adapting novels came from a variety of ethnicities. The works adapted, meanwhile, were generally popular in wide society—though often best known through stage performances and adaptations.

The adaptation process from this period has been little understood, yet important for understanding the history of screen adaptations, which are quickly becoming the most lucrative type of film in Indonesia. This exciting new contribution sheds light on the obscure history of film adaptation in Indonesia and lays the groundwork for further research.

Posted on

Pengantar Analisis Kebijakan Publik

Penulis     : William N. Dunn

Tebal         : 687 hlm

Ukuran     : 14,5 x 21 cm

Penerbit   : UGM Press

Deskripsi :

Analisis kebijakan publik adalah suatu disiplin ilmu sosial terapan yang meman­faatkan berbagai metode dan teknik untuk menghasilkan informasi yang relevan dengan kebijakan. Analisis seperti ini sangat diperlukan dalam praktik pengam­bilan keputusan di sektor pulik, dan karenanya dibutuhkan oleh para politisi, konsultan, dan pengambil keputusan di pemerintahan. Seiring dengan bertambah kompleksnya masalah yang dihadapi ma­syarakat, kebutuhan akan analisis kebi­jakan dalam proses pembuatan kebijakan publik pun semakin meningkat.

Analisis kebijakan sebagai bidang studi dipelajari di berbagai pendidikan tinggi, seperti Jurusan Ilmu Politik, Administrasi Publik, Manajemen, Ekonomi, dan lain-lain. Pelatihan-pelatihan untuk aparatur peme­rintah acapkali juga memasukkan materi analisis kebijakan. Buku ini merupakan teks pengantar analisis kebijakan yang terlengkap. Sifat pragmatis, kritis, dan multidisiplin dari analisis kebijakan secara menonjol ditampilkan dalam buku ini. Buku ini ditulis dengan sistematika yang sangat rapi, serta sarat dengan gambar dan contoh, sehingga memudahkan pembaca untuk memahaminya. William N. Dunn adalah Profesor dalam Analisis Kebijakan di University of Pittsburgh Amerika Serikat yang telah dikenal luas kepakar­annya dalam bidang ini.

Karena itu buku karyanya menjadi refensi penting dalam pengajaran analisis kebijakan di banyak universitas di dunia.