Buku ini bermaksud melacak alasan tentang kebutuhan manusia akan Tuhan. Persoalannya bukan diletakkan pada "zat tertinggi" mana yang benar dan paling tinggi, melainkan bagaimana cara manusia membaca "zat tertinggi" mereka. Buku ini tidakmencoba menilai Tuhan, tetapi melakukan pembacaan ulang terhadap nilai-nilai yang dilekatkan manusia atas entitas Ilahi. Semiotika dalam hal ini dijadikan alat karena fenomena Tuhan dalam berbagai manifestasinya sejatinya dibaca sebagai tanda, sebuah gejala yang menemukan artinya dalam daya-daya yang ada.
Penjelasan dalam buku merambah ranah filosofi dasar semiotika, semiotika posstruktiralis, perbedaan "Tuhan Semesta" dan "Tuhan Sejarah", juga kebutuhan manusia akan etos spiritual