Buku ini adalah karya sejarawati asal Jerman, Mary F. Somers-Heidhues, yang meneliti komunitas ionghoa yang cukup besar di daerah-daerah pedesaan di Kalimantan Barat, yang sangat berbeda dengan etnis Tionghoa di Jawa, yang kebanyakan merupakan kaum urban dan minoritas. Hingga tahun 1990-an studi tentang ‘Chinese settlements in rural Southeast Asia’ (pemukiman Tionghoa di pedesaan Asia Tenggara) masih merupakan ‘unwritten histories’ (sejarah-sejarah yang belum ditulis). Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Mary membuka kajian baru mengenai komunitas Tionghoa di pedesaan di Asia Tenggara. Kajian mengenai Kalimantan Barat ini memberikan sumbangsih yang berharga tentang komunitas-komunitas yang penting, namun sangat sedikit diketahui perannya dalam daerah dan masyarakat lokal dimana mereka hidup. Dengan demikian buku ini memberikan informasi mendalam mengenai sejarah sosial ekonomi Kalimantan Barat, khususnya mengenai kehidupan etnis Tionghoa, serta sumbangsih mereka dalam membangun daerah ini.
Jawa Pos, Minggu, 19 Agt 2007
Inggit, �Tongkat� Pemapah Soekarno
\"Inggit memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh buku,\" demikian Soekarno pernah mengatakan....
Pengelola salah satu jaringan toko buku terbesar asal AS, Borders Group, harus menutup semua toko yang masih tersisa. Penutupan itu terpaksa dilakukan setelah Borders gagal bersepakat dengan Najafi Cos., yang tadinya berminat mengakuisisi Borders demi menyelamatkan jaringan itu dari kebangkrutan.
Program pengembangan minat baca dan perpustakaan belum dianggap prioritas oleh Pemerintah. Nyatanya, untuk melaksanakan visi "Terdepan dalam Informasi Pustaka, Menuju Indonesia Gemar Membaca" pagu anggaran 2012 yang ditetapkan oleh Bappenas dan Kementrian Keuangan tak lebih dari Rp 368 miliar atau berkurang 15 % dari anggaran tahun 2011.