Penulis: Sarief Arief
Cetakan: Pertama, Januari 2010
Tebal: xiv + 106 hlm
Ukuran: 14 x 21 cm Deskripsi:
Buku ini memberikan fakta-fakta menarik bagaimana pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik film dengan cara mempertajam dan mengarahkan gunting sensornya secara serampangan, asal-asalan, tanpa aturan yang mengebiri film pada saat pertumbuhannya. Bahkan seorang anggota Komisi Sensor Film saat itu dapat melakukan penyensoran tanpa harus menunggu keluarnya surat perintah. Carut marut tersebut terjadi hanya lantaran rasa malu dan takut pemerintah terhadap pencitraan orang Barat yang akan terlihat buruk di mata Pribumi.
Penulis bukan saja menyajikan dan menganalisis setiap peraturan dengan kritis, juga memberikan contoh-contohnya. Ia siap dengan kekayaan sumber-sumber sezaman. Diperkuat pula dengan wawancara para pelaku sejarah, termasuk dengan mantan pemain Dardanella, Tan Boen Seng. Sebab itu dapat memberikan pemahaman yang utuh mengenai latarbelakang politik film di Hindia Belanda dan cukup kuat sebagai bahan refleksi politik film masa kini, khususnya dalam hal kelayakan, sensor, pengguntingan, dan lain sebagainya.
Buku ini merupakan fragmen menarik tentang istri-istri sukarno yang merupakan kumpulan pengarang yaitu, Dewi Puspitasari, Feby Nurhayati, Muhammad yuanda zara, Reni nuryanti, Ruslan, dan Sukendar....
Pengelola salah satu jaringan toko buku terbesar asal AS, Borders Group, harus menutup semua toko yang masih tersisa. Penutupan itu terpaksa dilakukan setelah Borders gagal bersepakat dengan Najafi Cos., yang tadinya berminat mengakuisisi Borders demi menyelamatkan jaringan itu dari kebangkrutan.
Program pengembangan minat baca dan perpustakaan belum dianggap prioritas oleh Pemerintah. Nyatanya, untuk melaksanakan visi "Terdepan dalam Informasi Pustaka, Menuju Indonesia Gemar Membaca" pagu anggaran 2012 yang ditetapkan oleh Bappenas dan Kementrian Keuangan tak lebih dari Rp 368 miliar atau berkurang 15 % dari anggaran tahun 2011.