Perspektif global diperlukan dalam penulisan sejarah Indonesia, paling tidak untuk dua tujuan utama. Pertama, untuk mengintegrasikan historiografi Indonesia ke dalam historiografi dunia. Integrasi historiografi ini penting untuk mengimbangi pemahaman orientalistik dan mengakhiri stigma the people without history (masyarakat tanpa sejarah) seperti disarankan Eric Wolf. Dengan bahasa Andre Gunther Frank, berpikir re-Orient atau memposisikan Timur sebagai pusat peradaban perlu dikembangkan agar masyarakat Asia, Indonesia khususnya, tidak lagi menjadi sekedar rest of the world dalam historiografi dunia seperti yang dilabelkan oleh Braudel. Dengan demikian historiografi dunia tidak hanya berbicara tentang kontribusi Barat terhadap pemberadaban Timur, sebaliknya juga membicarakan kontribusi Timur terhadap peradaban Barat. Kedua, perspektif global penting untuk menempatkan fungsi sejarah menjawab permasalahan kekinian. Namun perlu dicatat bahwa perspektif global bukanlah semata-mata upaya adaptif terhadap tuntutan kekinian dan tidak berarti mengesampingkan perspektif lokal atau nasional. Perspektif lokal masih penting untuk memberikan keseimbangan pemahaman global terhadap fenomena sejarah, dan menggalo local wisdom (kearifan local) yang juga diperlukan untuk memelihara keseimbangan peradaban sekaligus sebagai kritik terhadap generalisasi.
Berbagai tulisan yang terhimpun dalam buku ini memperlihatkan bagaimana kedua perspektif di atas digunakan dalam membangun narasi sejarah Indonesia yang menghasilkan historiografi sejarah Indonesia yang tidak tunggal, tetapi lebih beragam, bernuansa dan manusiawi.
MENYINGKAP JEJAK GERAKAN KIRI TAN MALAKA
Sejarah merupakan bagian terpenting dari eksistensi sebuah bangsa. Disadari atau tidak, sejarah sangat berpengaruh terhadap maju dan mundurnya...
Pengelola salah satu jaringan toko buku terbesar asal AS, Borders Group, harus menutup semua toko yang masih tersisa. Penutupan itu terpaksa dilakukan setelah Borders gagal bersepakat dengan Najafi Cos., yang tadinya berminat mengakuisisi Borders demi menyelamatkan jaringan itu dari kebangkrutan.
Program pengembangan minat baca dan perpustakaan belum dianggap prioritas oleh Pemerintah. Nyatanya, untuk melaksanakan visi "Terdepan dalam Informasi Pustaka, Menuju Indonesia Gemar Membaca" pagu anggaran 2012 yang ditetapkan oleh Bappenas dan Kementrian Keuangan tak lebih dari Rp 368 miliar atau berkurang 15 % dari anggaran tahun 2011.