Secara kosmologis, filsafat perennial (philosophia perennis) membagi realitas menjadi empat wilayah besar, yakni materi, biologis, psikologis, dan spiritual. Inti pembahasannya mencakup tema-tema yang terus berkesinambungan di sepanjang sejarah kefilsafatan. Kesejatian tema-tema itu diyakini dapat diwariskan lintas generasi dan dapat melampaui corak-corak filsafat yang silih berganti.
Buku ini mengupas pelbagai buah pikiran dari tujuh pemikir kontemporer sebagai respons atas ”kebangkitan kembali” perennialisme : jejak-jejak perennialisme dalam sejarah filsafat (Charles B. Schmitt); mengenal doktrin-doktrin filsafat yang bersifat abadi (Frithjof Schuon); mencari persamaan dan kesesuaian dasar perennialisme dengan agama (Owen C. Thomas); konsonansi dan resonansi perennialisme dengan sains modern (Alan M. Laibelman); perennialisme sebagai sarana untuk membangkitkan doktrin-doktrin primordialisme (Huston Smith) atau doktrin-doktrin tradisional (Seyyed Hossein Nasr), serta perennialisme sebagai upaya untuk memadukan sistem-sistem kefilsafatan yang berbeda (James Collins).
Perennialisme seperti membuka kesempatan, dan cenderung mendorong, untuk berbeda pendapat. Namun, di dalam kerangka berpikir dan orientasi yang berbeda-beda tersebut, tetap terlihat garis keselarasan pandangan, yakni ciri pandangan filsafati yang religius, dan adanya tendensi inklusif untuk memadukan sistem-sistem filsafat dalam bentuk yang relatif lebih utuh.
Daftar Isi
Dari Penerbit
Pengantar I
Pengantar II
Bab 1. Ahmad Norma Permata
Antara Sinkretis dan Pluralis: Perennialisme Nusantara
Bab 2. Charless B. Schimtt
Filsafat Perennial: Dari Steuco Hingga Leibniz
Bab 3. Owen C. Thomas
Kristen dan Filsafat Perennial
Bab 4. Alan M. Laibelman
Realitas dan Makna Ultim Menurut Filsafat Perennial:
Pembuktian dari Ilmu Matematik dan Ilmu-Ilmu Fisik.