|
Resensi - Perempuan dalam Hidup Sukarno: Biografi Inggit Garnasih -
Jawa Pos, Minggu, 19 Agt 2007
Inggit, �Tongkat� Pemapah Soekarno \"Inggit memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh buku,\" demikian Soekarno pernah mengatakan. Di antara sekian perempuan yang dijadikan istri Presiden Soekarno, Inggit Garnasih barangkali termasuk yang palik unik dan cukup mengesankan. Dikatakan demikian bukan karena ia secara sosial lebih terhormat dan mempunyai kekayaan harta yang melimpah. Bahkan, kalau dibandingkan Siti Oetari, anak Tjokroaminoto yang menjadi istri pertama Soekarno, jelas Inggit tidak mempunyai arti apa-apa. Sebab, secara fisik Oetari lebih muda dan lebih segar. Apalagi kalau berbicara masalah status sosial, di mana Oetari adalah anak tokoh karismatik Sarekat Islam (SI). Sedangkan Inggit tak lebih hanyalah anak petani desa dari pasangan Ardjipan dan Amsi. Di manakah sebenarnya letak keunikan Inggit Garnasih di mata Soekarno, sehingga ia rela melepas Oetari yang lebih muda dan menjanjikan? Reni Nuryanti dalam buku Perempuan dalam Hidup Soekarno: Biografi Inggit Garnasih ini, menguak lebih dalam ihwal perjalanan Inggit selama mendampingi Soekarno. Inggit lahir pada 17 Februari 1888 di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung. Bersama Soekarno, ia lebih dikenal sebagai sosok ibu, kekasih, sekaligus kawan yang setia mendampingi tanpa mengenal pamrih. Dari Inggitlah Koesno --begitu Inggit memangil Soekarno-- tahu banyak akan arti sebuah kehidupan. Ketika Soekarno mendekam di penjara Banceuy kemudian dipindahkan ke Sukamiskin, Inggit selalu mengunjunginya dan membawakan buku-buku yang dipesan suaminya itu. Berkat buku-buku itulah tak pelak jika Soekarno mampu membuahkan satu tulisan melegenda yang kemudian dikenal dengan teks pidato Indonesia Menggugat. Tulisan itu dikemas Soekarno dengan bahasa filosofis yang mengandung pelajaran hidup di masa revolusi, dan kuliah tentang imperealisme serta kapitalisme di dunia. Peran Inggit dalam hal ini jelas tidak bisa dikesampingkan. Ia setia mendampingi, memberikan motivasi, serta dukungan yang cukup berarti bagi Soekarno. Apalagi ketika suaminya itu terjun ke dalam hiruk-pikuk pertarungan politik melalui Partai Nasional Indonesia (PNI), di mana Inggit tidak hanya sibuk membantunya di lapangan partai, tetapi juga berjuang untuk membesarkan nama PNI itu sendiri. Menurutnya, untuk membesarkan PNI tidak mudah seperti yang diangankan. Kendati pun Soekarno pandai menghimpun massa dengan kekuatan dan gaya pidatonya yang ekspresif, massa masih juga sedikit. Di samping itu, tidak bisa dipungkiri bahwa Soekarno kadang-kadang merasa kesulitan memahami bahasa Sunda. Masyarakat Bandung pada umumnya bergaul dengan bahasa Sunda, sehingga tidak boleh tidak Soekarno harus menyesuaikannya. Dalam kondisi seperti ini Inggit dengan sabar dan telaten menerjemahkan perkataan-perkataan yang sulit dipahami Soekarno pada saat berpidato atau dalam kesempatan menjelaskan kepada masyarakat (hlm.138). Itulah sebabnya kenapa kemudian Soekarno memberikan penghargaan selangit kepada Inggit. John Legge (1972) menggambarkan bagaimana peran Inggit pada 1920-an sungguh sangat mengesankan. Sebab, menurut Legge, Soekarno pada waktu itu tampil penuh percaya diri karena dukungan emosional yang diberikan sang istri yang usianya terpaut 12 tahun itu. Inggit telah memberikan segala kemampuannya demi keberhasilan perjuangan sang suami. Tidak heran kalau Inggit disebut sebagai perempuan segala-galanya dalam hidup Soekarno. Inggit bagi Soekarno bukan hanya \"tongkat\" yang menyangga jiwanya, tetapi lebih dari itu, perempuan Sunda nan cantik itu adalah kekuatan yang tak bisa dicari bandingannya. Berkali-kali Soekarno jatuh, berkali-kali pula Inggit memapahnya untuk kembali menapaki terjalnya kerikil perjuangan (hlm. 6). Kegigihan Inggit dalam membantu perjuangan Soekarno tidak lepas dari kesamaan visinya, yakni menuju cita-cita kemerdekaan dan mewujudkan kehidupan yang lebih beradab. Sisi inilah yang membuat Soekarno rela melepas Siti Oetari yang dianggap masih belia, dan menemukan tempat pelabuhan cinta dan cita-citanya pada diri Inggit. Memang, secara pendidikan Inggit bukan termasuk pelajar yang mengenyam pendidikan tinggi sebagaimana istri Soekarno lainnya. Ia hanya lulus MI (Madrasah Ibtidaiyah, setara SD). Tetapi berbicara soal kesetiaan dan perjuangan, ia melebihi pelajar yang mengenyam pendidikan di bangku-bangku sekolah tinggi pada umumnya. Inggit lebih matang baik secara fisik maupun psikis. Keberaniannya dalam medampingi perjuangan Soekarno membuktikan semua itu. Bahkan, dalam otobiografinya, Soekarno menyebut Inggit bukan perempuan yang berpendidikan. Tetapi, dengan kematangan usia dan jiwanya dia mampu memberikan dorongan dan kekuatan lebih. Itulah yang disadari Soekarno. Di sinilah kita sedikit banyak tahu kenapa Soekarno begitu tergila-gila. Padahal, waktu itu, ketika Soekarno menempuh studinya di THS (Technische Hooge School) Bandung, Inggit masih berstatus sebagai istri Sanusi --tokoh SI Cabang Bandung. Bahkan, sebelum menikah dengan Sanusi, Inggit adalah janda dari seorang Kopral Residen Belanda, Nata Atmadja, yang menikahi Inggit di usianya yang sangat muda, 12 tahun. Namun demikian, usia dan status sosial yang membedakannya cukup jauh tersebut tidak membuat Soekarno berpaling dari kobaran cinta yang sudah ia pendam sejak pertama kali bertandang ke rumah Inggit pada 1921. Bagi Soekarno, Inggit tetap merupakan perempuan yang menjanjikan, di mana spirit perjuangan penuh ketulusan tercermin dari auranya. (*) A. Yusrianto Elga, alumnus PP An-Nuqayah Sumenep, Madura. Bergiat di Indonesia Buku (I:boekoe) |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||



.png)
