Kategori

Pilih Produsen

Customer Support

Condongcatur, Depok, Yogyakarta 55283
 
Layanan 1
Layanan 1
 
Layanan 2
Layanan 2
 

Resensi - Bertahan Di Tengah Krisis: Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon - Kesetiaan Mempertahankan Hidup
  Tanggal: 16 Aug 2009, Oleh: Dadang Kusnandar
Bertahan Di Tengah Krisis: Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon
Catatan Dadang Kusnandar
Anggota Lingkaran Dialog Kebudayaan, Cirebon

MEMBICARAKAN etnis Tionghoa di Indonesia seperti tidak ada habisnya. Mungkin karena etnis Tionghoa tetap menduduki peringkat tinggi dalam hal bisnis dan ekonomi, sehingga perilaku serta segala sesuatu yang berkaitan dengannya menjadi tetap menarik dibincangkan. Tionghoa, etnis berkulit putih, cenderung kurang akrab dengan warga setempat (terlebih jika tingkat ekonominya lebih mapan dari warga setempat), enggan berurusan dengan administrasi birokarsi, etnis yang giat bekerja, serta punya
pandangan menarik dalam kehidupan -- senantiasa mengundang
keingintahuan kita untuk menguaknya.

Bertahan di Tengah krisis, sebuah kajian mengeniai kekuatan masyarakat Tionghoa mempertahankan hidup di tengah hantaman krisis ekonomi, yang terjadi pada tahun 1930 lantas terulang pada 1980-an, lalu tahun 2009. Masyarakat etnis Tionghoa dalam buku ini digambarkan begitu kuat mempertahankan hidup mereka. Kendati usaha gulanya jatuh, namun tidak malu berubah profesi menjadi tukang cuci pakaian yang mencari pelanggan menggunakan sepeda ontel, atau menjadi penjaja makanan keliling di desa dan kota. Kisah ini kabarnya hampir tidak terungkap mengingat kesungguhan etnis Tionghoa mengubah nasibnya serta mempertahankan diri di tengah krisis.

Krisis, dalam kata-kata budayawan Kuntowijoyo merupakan salah satu paralelisme historis yang terus terjadi dalam sejarah indonesia. Krisis adalah kata yang muncul secara periodik yang menunjukkan adanya rentetan atau siklus penderitaan dari waktu ke waktu yang melanda negeri ini melintasi rezim-rezim yang berkuasa. Akibatnya
krisis tidak hanya terbatas mengisi ruang material structural masyarakat melainkan juga merambah jauh ke ruang histories kultural.

Kata Bambang Purwanto, dosen sejarah UGM, dalam pengantar buku ini, "Satu demi satu kesulitan ekonomi itu mengisi ruang ingatan social masyarakat, baik mereka yang mengalaminya secara langsung maupun sebagai ingatan bersama warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada satu sisi ingatan itu berfungsi sebagai obat ketika masyakarat harus berhadapan dengan krisis yang lebih sulit pada waktu yang berbeda, sementara di sisi lain ingatan itu berubah menjadi kuasa pembanding romantik yang memiliki kekuatan politis untuk menekan sebuah rezim yang dianggap gagal, baik yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai reaksi spontan dan alami maupun sebagai bagian dari sebuah proses kompetisi politis di antara para elit".

Kekuatan etnis Tionghoa, sering digambarkan dengan kegigihannya meraih puncak-puncak kehidupan dalam pengertian materi. Hampir tak dapat disangkal, komunitas bermata sipit serta berkulit putih pucat ini sering dikategorikan dengan julukan buruk: binatang ekonomi. Artinya karena kuasa ekonomi yang dimilikinya menyebabkan kecemburuan etnis di luarnya, lantas secara serampangan menjukuki dengan stigma di atas. Padahal sangat boleh jadi kuasa ekonomi yang diwarisi etnis ini bukan lahir begitu saja. Sering kali kita lihat keluarga Tionghoa yang enggan menyekolahkan anaknya ke pendidikan tinggi jikalau sang anak tidak mempunyai prestasi akademis yang bagus sejak bangku sekolah menengah. Bagi etnis tionghoa sedemikian, orang tuanya mengarahkan mereka untuk berdagang atau bekerja. Sebaliknya jika anaknya berprestasi bagus, pendidikan tinggi pasti diupayakan bagi sang anak kendati harus ke luar negeri.

Yang juga patut dicatat adalah kata-kata nabi Muhammad saw: Tuntutlah ilmu meski ke negeri Tionghoa. Kalimat bijak ini menandakan adanya kekuatan dalam budaya Tionghoa, selain dalam berniaga, juga penguasaannya atas obat-obatan, kesetian
membela dinasti (klan), serta tingkat survive yang patut ditiru. Upaya bertahan hidup di tengah depresi ekonomi 1930-an di Indonesia, baru satu contoh bagaimana etnis Tionghoa bertahan hidup dan memekarkan karsa ciptnya di tengah perang dunia II yang masih berlangsung.

Buku di tangan Anda menyajikan bagaimana etnis Tionghoa Cirebon tahun 1930 menghadapi krisis ekonomi, berusaha keras untuk keluar dari kesulitan dan memperlihatkan ketangguhan mengais rizki ilahi. Buku ini juga dilengkapi tabel sebaran penduduk Tionghoa di Cirebon saat itu, kondisi sipil orang Tionghoa, mata pencaharian
etnis Cina di Kota Cirebon tahun 1875-1905, dan tabel lain yang
menunjang eksistensi etnis Tionghoa di Cirebon.

Buku yang merupakan tesis ini ditulis untuk meminimalisir kesalahpahaman tentang etnis Tionghoa, terutama disajikan sebagai kekuatan untuk keluar dari krisis atau depresi ekonomi sebagai kegagalan pemerintahan yang berkuasa. Setidaknya buku ini memberi inspirasi bahwa kaum etnis Tionghoa di Kota Cirebon pada 1930 telah berhasil keluar dari krisis ekonomi melalui jalan panjang guna memperlihatkan kesetiaan mempertahankan hidup.

Buku di tangan anda, menjadi penting ketika kini dinamika ekonomi Indonesia masih digerakkan oleh komunitas etnis Tionghoa. Maka gali dan pelajari kiat sukses etnis Tionghoa agar kita secepatnya keluar dari krisis. Jangan bertingkah seperti pemerintah: kita terkena imbas krisis global. Tetapi mulailah bangkit belajar dari kuasa ekonomi tionghoa agar naga-naga kecil juga bangkit di Indonesia. Semoga!***

Jml Produk Harga
Kereta Belanja masih kosong
Sub Total :  Rp0
MENYINGKAP JEJAK GERAKAN KIRI TAN MALAKA Sejarah merupakan bagian terpenting dari eksistensi sebuah bangsa. Disadari atau tidak, sejarah sangat berpengaruh terhadap maju dan mundurnya...